Selasa, 28 Oktober 2014

Edit

PEMBARUAN PESANTREN (Opini)

Pesantren merupakan intuisi keagamaan yang tidak lepas dari masyarakat. Terutama masyarakat pedesaan. Karena lembaga ini berkembang dari dan untuk masyarakat. Sehingga sampai saat ini pesantren memiliki pengaruh yang cukup kuat pada aspek kehidupan dikalangan masyarakat.
Pada awal berdirinya, pengabdian pesantren terhadap masyarakat memiliki bentuk sangat sederhana dan bisa dibilang sangat alami. Dengan menyediakan wadah bagi sosialisasi anak-anak dan sebagai tempat bagi remaja yang datang dari berbagai daerah yang sangat jauh untuk menjalani semacam “Ritual Peralihan” dari fase remaja ke fase selanjutnya. Dalam hal seperti ini, pesantren tentu terlibat aktif dalam pengkajian keagamaan dan pola-pola sejenisnya yang sudah pasti dapat dikembangkan dimasyarakat.
Namun, persoalan kian menjadi runyam disaat globalisasi menjadi realitas keseharian yang harus dihadapi umat manusia. Globalisasi merupakan kolonialisme berwajah baru, dengan menawarkan produk-produk yahudi, penetrasi industri lintas negara, perluasan pasar uang, penjajahan barang-barang konsumsi dari dunia pertama ke dunia ketiga. Perjalanan yang dilalui ini telah membuktikan bahwa globalisasi menjadi ajang pertarungan antara yang kuat dan yang lemah, sehingga pesantren dengan teologi yang dianut, ditantang untuk menyikapi globalisasi secara bijak. Pesantren harus mampu mencari solusi jitu yang benar-benar mencerahkan. Karena pesantren bukanlah musium purba yang hanya dapat menyimpan dan melestarikan benda-benda kuno dan unik. Juga bukan penjara dimana tindakan dan pikiran dikontrol habis-habisan.
Pesantren adalah “Laboratorium” tempat segala jenis dan aliran dikaji dan diuji ulang dalam pengamatan ini. Kita akan tercabik diantara harapan dan keputus asaan, semua orang pasti berharap negri kita menjadi negara maju dengan bangsa berperadapan islam. Tentu dalam mewujutkan suatu harapan, kita dituntut untuk berperan aktif. Semangat belajar, bekerja, pantang menyerah dalam mengembangkan potensi yang kita miliki. Demi pesantren dan demi indonesia tercinta. Karena tindakkan nyata yang kecil itu lebih berguna daripada ide raksasa yang Cuma berupa renungan.

By:Fardha
Edit

DEMI MENEPATI JANJI (Opini)

Indonesia adalah suatu bangsa yang sesungguhnya sudah dirintis sejak awal abad ke-20. Dan kebangkitan nasional menjadi salah satu titik penting sebagai langkah awal mencapai kemerdekaan. Sumpah pemuda adalah moment selanjutnya yang dapat menyatukan beragam perbedaan. Hingga akhirnya 17 agustus 1945 menjadi puncak perjuangan indonesia sampai saat ini. Sehingga sudah lebih dari 65 tahun bangsa indonesia menikmati kemerdekaan. Lalu apa arti kemerdekaaan sendiri bagi kita?.
Dalam pembukuan UUD 1945 memiliki sebuah janji yang salah satunya adalah mencerdaskan kehiduapan bangsa. Tidak peduli siapa mereka, apakah orang kaya ataupun orang miskin. Tidak peduli dimana pun dia, di kota, di desa, atau di dalam pondok pesantren. Karena ini adalah sebuah janji yang harus dilunasi untuk setiap anak bangsa indonesia.
Pendidikan dapat dipandang sebagai proses penting untuk memenuhi janji kemerdekaan, namun akan nihil hasilnya jika para pelajarnya sendiri tidak memiliki tekat yang kuat untuk mencerdaskan diri. Bagaimana indonesia akan maju jika mahasiswanya sering bolos kuliah. Padahal kita khususnya mahasiswa INKAFA memiliki tenaga pengajar hebat. Bukan hanya dalam bidang agama, dalam bidang kejuruan pun mereka sangatlah ahli. Sayangnya mahasiswa INKAFA belum menyadari akan hal ini. Sehingga sebagian dari mereka sibuk untuk menyenangkan diri sendiri hanya jika mood mereka baik, mereka akan masuk kuliah. Tak jarang banyak yang bemottokan “seng penting bayar spp”.
Lantas bagaimana dengan pendapat bahwa mahasiswa adalah agent of change? Akankah negri ini berubah menjadi baik, atau malah sebaliknya, berubah menjadi negri yang dipenuhi pemuda-pemuda tanpa kepribadian dan moral. Jika demikian siapa yang patut disalahkan?
Semestinya tidak hanya mahasiswa, dosen pun harus membenahi seluruh sistem yang lama, tidak hadirnya mahasiswa pastilah memiliki sebab, entah external atau internal. Untuk itu menghapus dominasi dosen merupakan langkah penting dalam sebuah pembelajaran. Karena dominasi dosen dalam pembelajaran hanya akan menimbulkan kejenuhan dalam diri mahasiswa dan hal yang perlu diperhatika adalah peningkatan kualitas mahasiswa tidak akan berhasil secara maksimal.
Semua bentuk pembenahan tidak akan terwujud tanpa adanya komitmen bersama. Komitmen inilah yang akan menjaga semangat perubahan untuk mencapai cita-cita bersama menuju bangsa yang lebih baik dmi menepati janji dalam UUD agar terealisasi dngan baik. Sehingga menunjukkan pada masyarakat indonesia bahwa UUD bukan sekedar tulisaan tanpa makna.



By:R.B.A

Senin, 20 Oktober 2014

Edit

SENYUM SANG PAHLAWAN

Siang dibawah terik matahari yang menyengat terasa sendu olehku. Diruang
penuh nuansa putih seputih hati seorang wanita yang terbaring lemah dihadapanku. Kini, tergambar jelas dimataku lekukan wajah keriput miliknya. Dia adalah seorang yang menjadi motivator hidupku, pahlawanku, benar, dia adlah ibuku. Tangannya kusentuh lembut sedikit berharap akan membukakan mata indahnya untukku. Kuamati tubuhnya yang semakin kurus pun kulitnya semakin menyusut, keriput
wajahnya menyiratkan banyaknya pengalaman-pengalaman kehidupan.
Pandanganku menerawang jauh, menembus ruang udara, memutar kembali memori kenangan tiga tahun silam disaat ibu mulai melepasku untuk menuntut ilmu dipondok. Mengingat kasih sayang, ikhlasnya cinta dan pengorbanan yang tak mengharapkan balas jasa.

Edit

Kala Cinta

       
    Malam ini, langit Yogyakarta amat kelabu pertanda hujan akan segera turun. Aku baru saja meninggalkan masjid usai menunaikan sholat isya,segera ku percepat langkah agar tak bertemu hujan di tengah jalan nanti. Dan, Alhamdulillah aku sampai di rumah dengan selamat. Aku pun segera menuju ke kamar untuk beristirahat sebab esok aku harus datang pagi-pagi ke kampus,maklum besok adalah hari pertama ujian akhir semester untuk semester yang ke-7 ini. Aku rebahkan tubuh ini, tak sengaja mata ini terpaku pada foto yang ku letakkan di meja yang berada tepat di samping tempat tidurku. Foto itu telah membiusku untuk mengingat kembali kenangan masa lalu bersama orang yang ada di foto yang kini ada di genggamanku.
-

Senin, 13 Oktober 2014

Edit

Resensi

           
 Apa kalian pernah merasakan darah kalian berdesir saat mendapati sesuatu yang membuat kalian terpukau, meskipun kalian mendapatinya hanya dengan mengandalkan indra penglihatan kalian? Karena aku pernah. Aku merasakannya. Dan aku benar-benar terpukau hingga membuatku merinding. Ah ya, mungkin juga mengandalkan indra perasamu, karena aku, sejujurnya, mendapati diriku menangis diam saat perasaan itu menghampiriku. Perasaan yang campur aduk antara terpesona, terkejut, tidak percaya, sedih, bahagia. Aku merasakan semuanya hingga rasanya hatiku tengah dipermainkan dalamroolcoaster.dan semua itu kudapatkan saat aku membaca.
            

Senin, 15 September 2014

Edit

kisah yang mengharuhkan

         
  Malam itu..... gadis kecilku menghampiriku ketika tanganku dengan lihai mengetik di keyboard laptop, bahkan awalnya aku tidaak menyadari bahwa ia ada di sampingku. entah ada apa?. tapi, mata mungil itu memandangku dengan pandangan yang aku sendiri tidak tahu apa makna pandangan itu... ia gadisku, putriku... "ayah, aku boleh pinjam uang ayah tidak?" celoteh gadis kecil itu "buat apa sih nak?, sekarang kan sudah malam" ucapku.
           

Jumat, 08 November 2013

Edit

My Hero.......

“Apa kalian sudah tahu jawabannya?
Itu adalah pertannyaan yang sering ditanyakan temanmu saat pulang dari surau pak uru. Berceloteh bersama layaknya gadis ceria yang siap melangkah. Obrolan biasa. Tapi kau tidak pernah lupa membisikkannya padaku. Tentu saja, setelah kau ceritakan semuanya pada ibumu. Dan beliau hanya akan tersenyum menanggapimu.