Jumat, 08 November 2013

Edit

My Hero.......

“Apa kalian sudah tahu jawabannya?
Itu adalah pertannyaan yang sering ditanyakan temanmu saat pulang dari surau pak uru. Berceloteh bersama layaknya gadis ceria yang siap melangkah. Obrolan biasa. Tapi kau tidak pernah lupa membisikkannya padaku. Tentu saja, setelah kau ceritakan semuanya pada ibumu. Dan beliau hanya akan tersenyum menanggapimu.
           
Ku akui kamu memang gadis yang lucu, hidung mancung nan mungil di antara mata hitam kacang polong, bibirmu pun mungil dan terlihat lucu saat cemberut. Tapi mungkin penilaian pak guru lain tentangmu. Kau bilang beliau pernah mengatakan padamu bahwa kau gadis yang pandai.
Ya, Aku ingat. Waktu itu kau bilang padaku. Tepat sepulang kau dari surau...
“Kamu memang gadis yang pandai putri”. Ucapnya.
“Pak guru....”.Waktu itu kau bingung.
“Apa kau menyimak pelajaran tadi?”.Dan kau hanya mengangguk.
“Apa kau akan memikirkan jawabannya?”.
Kau hanya diam berfikir.”Siapa pahlawanku?”. Ucapmu lirih.
Pak guru hanya tersenyum.
            Senyum yang menyejukkanmu. Membuatmu bersemangat untuk maju,untuk belajar dan berfikir. Hal yang jarang kau lakukan. Memang bukan salahmu.Semua suadah takdir kau terlahir dengan keadaan yang memprihatinkan. Keterlambatan berfikir sebagai akibat dari adanya ketidaknormalan syaraf. Hal yang membuatmu sulit menemukan teman sebaya dan keuntungannya,membuatmu dekat denganku.
Kita bersahabat.
            Resmi saat kau mulai bisa menulis dengan benar. Di usiamu yang kesembilan tahun. Sekarang, kau kembali termenung di sisiku. Dengan mimik serius yang membuatku ingin tertawa. Bukan mengejekmu,tapi aku suka saat kau termenung,dengan ujung pensil menyentuh dagu dan aku di sisimu. Sepertinya termenung adalah kebiasaan barumu semenjak pak guru memberikan PR itu. Dan keuntungan lagi bagiku bisa menikmati wajah jelitamu, seperti sekarang. Tapi kali ini ibumu masuk ke kamar dan menghampirimu, untuk sementara aku pamit.
Maskipun sebenarnya aku masih mencuri dengar apa yang kalian bicarakan.
 “Apa yang putri pikirkan?”. Tanyanya. Tapi kau justru bertanya,bukanya menjawab.
“Ibu, siapa pahlawan ibu?”. Tanyamu. Aku tahu,kau pasti berharap dapat sedikit bocoran dari ibumu.
“Pahlawan?”.Kau mengangguk.
Ternyata aku tidak hanya mencuri dengar tapi juga  mencuri pandang.
“Pahlawan itu orang yang hadir saat kau membutuhkannya. Saat putri kesusahan atau saat putri membutuhkan bantuan”
Sedikit demi sedikit kau mencerna apa yang baru saja diucapkan ibumu dengan perlahan dan lambat. Membuatku juga ingin berfikir....
“Bagaimana kita tahu?”.Tanyamu. tapi ibumu hanya tersenyum.
Dan kau pun mulai mengingat.
Aku kembali padamu,menemanimu mengulas kembali memori yang lalu. Lembar demi lembar kilatan-kilatan hidup mengisi otakmu.
Aku masih setia di sisimu.
Lalu......
Ketika kau masih berusia 8 tahun.
            Saat itu kau masih kaku menggerakkan jarimu untuk membentuk huruf demi huruf. Dan kau belum mengenalku. Seseorang datang waktu itu. Pemuda putih dengan alis tebal dan hidung mancung. Bibirnya seraya lalu tersenyum. Menawari kebaikan pada ibumu yang seolah putus asa mengajarimu. Pemuda itu menghampirimu, perlahan menuntunmu untuk menulis,membentuk huruf demi huruf hingga menjadi indah. Dan kau mulai menyukainya.
Ketika kau berusia 9 tahun.
            Untuk pertama kalinya kita saling kenal. Kau langsung akrab denganku. Satu kesamaan karena kita sama-sama memiliki keterlambatan berfikir. Bahkan mungkin kau lebih beruntung dariku. Kau selalu berceloteh tentang pemuda itu. Tentang dia yang tampan,pintar,baik dan segudang pujian yang kau berikan untuknya. Disaat itulah aku mengerti apa itu berfikir,yang pertama kali kufikirkan adalah , siapa dia?
            Sore itu kamu terjatuh dari sepeda. Kau kesakitan menahan luka di lutut yang berlumur darah. Sebenarnya aku ingin menolongmu waktu itu tapi....
Pemuda itu datang menolongmu. Kau bilang ia mengantarmu pulang hingga rumah, bahkan ia sempat mengobrol dengan ibumu.
 Ya,dia selalu ada saat kau membutuhkan....
Aku hanya bisa mengintip waktu itu, karena ku lihat ia sangat memperhatikanmu. Sejak saat itu aku resmi tahu siapa dia. Kamu kembali bercerita bahwa teman-temanmu mulai mengejekmu lagi. Kau menangis, tapi kau tidak berani bilang pada ibumu.
            Aku tahu. Kamu sangat terluka waktu itu.
 Saat itu kamu bilang,”Aku sangat sedih”. Dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipi beningmu. Menetes  dan menyentuhku. Betapa sedihnya aku waktu itu.
Tapi apa yang aku bisa.....
Suatu malam aku mencarimu. Tidak biasnya kamu berada jauh dari sisiku. Dan aku melihat raut wajah ibumu yang begitu panik.
Perlahan. Aku pun mulai merasa panik. Kamu kenapa?
Ternyata kamu tergeletak lemas di atas ranjang. Kamu demam. Pantas saja ibumu begitu khawatir. Desamu adalah sebuah desa terpencil yang jauh dari layanan kesehatan. Tidak ada dokter maupun mantri di desamu. Jangankan mantri, guru mengaji pun sangat jarang ditemukan. Tapi pemuda yang waktu itumenolongmu datang. Dengan raut yang juga panik. Ia menghampirimu. Menyentuhmu....
“Sejak kapan dia seperti ini?”. Tanyanya.
“Aku tidak tahu. Ketika aku masuk ke kamarnya ia sudah seperti ini”.Lalu ia diam dan tersenyum.
Tersenyum?.Bisa-bisanya ia tersenyum disaat sepeti ini.
“tidak papa,ini hanya karena perubahn cuaca setelah ini ia pasti akan sembuh”. Katanya menenangkan ibumu.
“Apa itu benar?”.Nampaknya ibumu masih ragu.
“Insya allah”.Jawabnya. Lalu ia pergi,ibumu juga keluar. Tinggal kita berdua di kamar. Saat itu kamu bilang padaku....
Ia selalu ada saat kau dalam kesusahan.
Oh ya, kau lewatkan sesuatu.
Saat hari ulang tahunmu yang ke-9
Sebuah kado pertama yang kau dapat. Membuatnya menjadi begitu istimewa meski itu hanya sebuah buku harian. Kau semakin memujinya, mengagumiya, dan menyukainya. karena sejak saat itu kita mulai berteman.
Sekarang....
Kau tampak tertegun kagum. Betapa perjalanan memori  seperti sebuah slide film yang berputar. Sepertidarmulin dalampasar malam.
Kamu menemukannya.
Siapa dia.
Ya, kau kagum padanya karena ia selalu ada sisimu.  Mengapa kau tidak menyadarinya dari dulu.
Ia orang yang dekat denganmu.
Orang itu. Pahlawan itu.
Kau tampak berbinar gembira. Seperti sebuah lampu yang baru saja dinyalakan. Kau tampak bercahaya. Dalam kesadaranmu akan suatu hal. Ya, kau memang menemukannya dan aku ikut senang. Kau memelukku erat dan kita melompat-lompat bersama. Bahagia.
“aku tahu jawabannya” sorakmu bahagia. Kau memelukku semakin erat hingga aku tak bernafas.
“mau kemana putri?” Tanya ibumu saat kau berlarikeluar rumah pagi ini. Tentu saja ia bertanya.karena tidak ada jadwal belajar bagimu, pagi ini. Tapi kau tampak antusias menjawab ibumu, kau tampak berseri.
“aku mau menemui pahlawanku.”
Ku lihat ibumu tersenyummemperhatikan tingkahmu. Bahagia seperti aku dan kamu.
Kau tidak peduli lagi pada teman-teman kecilmu yang mengajakmu bermain. Kau tetap berlari. Tetap dengan aku di sisimu, yang diam tak bergerak. Bahkan mungkin kau tidak peduli bahwa aku tak bernafas.
Efek dari kebahagiaanmu.
“sampai”. Ucapmu lrih menyapu peluh di pipi.
Tepat di depan surau kau berhenti. Menemukan seseorang keluar darinya. Pasti pak guru. Aku tahu kau akan bilang  pada pak Beliau bahwa kau sudah tahu jawabannya.
Kau memang menunggunya
Dan menunggu
Pak guru keluar dari surau dan langsung menatapmu yang memeng berdiri tepat di depan pintu surau. Ia tersenyum dan kau juga ikut tersenyum.
“ada apa putri? Tanyannya lembut. Tak pernah berubah. Ia menghampirimu, berdiri tepat di depnmu.
“pakguru aku sudah tahu jawabannya”. Ucapmu bangga
“o ya, siapa?”
Lalu kau melepasku, tak lagimemelukku. Sebenarnya ku ingin menolak tapi...
Tangan pak guru yang kini kurasakan. Kekar dan kuatnya ia memegangku namun enta mengata ini terasa nyaman...
Dan kau bilang...
“pak guru pahlawanku adalah orang yang meberikan diary itu kepadaku”. Ucapmu sedikit malu...
Dan aku masih diam.
“pahlawanku adalah orang yang selama ini mengajariku menulis dan mengaji. Yang membuatku mengerti . pahlawanku adalah orang yang selalu sabar membimbingku. Ia selalu ada di saat aku membutuhkan.”
Kini semua yang lalu bagai awan biru yang penuh ilmu. Memori berputar dalam setiap kubangan melo di setiap laku. Sebuah ingatan. Sebuah kejadian. Sebuah kesadaran.
Sekarang aku tahu mengapa aku begitu nyaman di pelukannya. Karena aku darinya. Kau mengenalku karena ia yang memberikanku padamu. Membuatku mengenalmu dan kita saling menyayangi.
“pak guru...kaula pahlawanku, kau yang membimbingku, mengajariku, an selalu ada untukku. Terima kasih pak guru”
Langit waktu itu seakan mendung jika kulihat dari pandangan mata pak guru. Ia berkaca-kaca. Tak menyangkah ,celoteh seorang gadis yang memiliki keterlambatan berfikir mampu membuatnya begitu tersentuh, terharu, betapa tuhan maha penyayang dan adil. Ia yang memberikan semua pengetahuan ini... kesadaran ini.
Teriama kasih tuhan...

1 komentar:

  1. SUBHANALLAH...terkadang memang banyak pahlawan yang luput dari kenangan kita....dan guru....adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang tak kan pernah luput dari ingatanku

    BalasHapus