“Apa kalian sudah tahu jawabannya?
Itu adalah pertannyaan yang sering ditanyakan temanmu saat pulang
dari surau pak uru. Berceloteh bersama layaknya gadis ceria yang siap
melangkah. Obrolan biasa. Tapi kau tidak pernah lupa membisikkannya padaku.
Tentu saja, setelah kau ceritakan semuanya pada ibumu. Dan beliau hanya akan
tersenyum menanggapimu.
Ya, Aku ingat. Waktu itu kau bilang padaku. Tepat sepulang kau dari
surau...
“Kamu memang gadis yang pandai putri”. Ucapnya.
“Pak guru....”.Waktu itu kau bingung.
“Apa kau menyimak pelajaran tadi?”.Dan kau hanya mengangguk.
“Apa kau akan memikirkan jawabannya?”.
Kau hanya diam berfikir.”Siapa pahlawanku?”. Ucapmu lirih.
Pak guru hanya tersenyum.
Senyum yang
menyejukkanmu. Membuatmu bersemangat untuk maju,untuk belajar dan berfikir. Hal
yang jarang kau lakukan. Memang bukan salahmu.Semua suadah takdir kau terlahir
dengan keadaan yang memprihatinkan. Keterlambatan berfikir sebagai akibat dari
adanya ketidaknormalan syaraf. Hal yang membuatmu sulit menemukan teman sebaya
dan keuntungannya,membuatmu dekat denganku.
Kita bersahabat.
Resmi saat kau
mulai bisa menulis dengan benar. Di usiamu yang kesembilan tahun. Sekarang, kau
kembali termenung di sisiku. Dengan mimik serius yang membuatku ingin tertawa.
Bukan mengejekmu,tapi aku suka saat kau termenung,dengan ujung pensil menyentuh
dagu dan aku di sisimu. Sepertinya termenung adalah kebiasaan barumu semenjak
pak guru memberikan PR itu. Dan keuntungan lagi bagiku bisa menikmati wajah
jelitamu, seperti sekarang. Tapi kali ini ibumu masuk ke kamar dan
menghampirimu, untuk sementara aku pamit.
Maskipun sebenarnya aku masih mencuri dengar apa yang kalian
bicarakan.
“Apa yang putri pikirkan?”.
Tanyanya. Tapi kau justru bertanya,bukanya menjawab.
“Ibu, siapa pahlawan ibu?”. Tanyamu. Aku tahu,kau pasti berharap
dapat sedikit bocoran dari ibumu.
“Pahlawan?”.Kau mengangguk.
Ternyata aku tidak hanya mencuri dengar tapi juga mencuri pandang.
“Pahlawan itu orang yang hadir saat kau membutuhkannya. Saat putri
kesusahan atau saat putri membutuhkan bantuan”
Sedikit demi sedikit kau mencerna apa yang baru saja diucapkan ibumu
dengan perlahan dan lambat. Membuatku juga ingin berfikir....
“Bagaimana kita tahu?”.Tanyamu. tapi ibumu hanya tersenyum.
Dan kau pun mulai mengingat.
Aku kembali padamu,menemanimu mengulas kembali memori yang lalu.
Lembar demi lembar kilatan-kilatan hidup mengisi otakmu.
Aku masih setia di sisimu.
Lalu......
Ketika kau masih berusia 8 tahun.
Saat itu kau masih
kaku menggerakkan jarimu untuk membentuk huruf demi huruf. Dan kau belum
mengenalku. Seseorang datang waktu itu. Pemuda putih dengan alis tebal dan
hidung mancung. Bibirnya seraya lalu tersenyum. Menawari kebaikan pada ibumu
yang seolah putus asa mengajarimu. Pemuda itu menghampirimu, perlahan
menuntunmu untuk menulis,membentuk huruf demi huruf hingga menjadi indah. Dan
kau mulai menyukainya.
Ketika kau berusia 9 tahun.
Untuk pertama
kalinya kita saling kenal. Kau langsung akrab denganku. Satu kesamaan karena
kita sama-sama memiliki keterlambatan berfikir. Bahkan mungkin kau lebih
beruntung dariku. Kau selalu berceloteh tentang pemuda itu. Tentang dia yang
tampan,pintar,baik dan segudang pujian yang kau berikan untuknya. Disaat itulah
aku mengerti apa itu berfikir,yang pertama kali kufikirkan adalah , siapa dia?
Sore itu kamu
terjatuh dari sepeda. Kau kesakitan menahan luka di lutut yang berlumur darah.
Sebenarnya aku ingin menolongmu waktu itu tapi....
Pemuda itu datang menolongmu. Kau bilang ia mengantarmu pulang
hingga rumah, bahkan ia sempat mengobrol dengan ibumu.
Ya,dia selalu ada saat kau
membutuhkan....
Aku hanya bisa mengintip waktu itu, karena ku lihat ia sangat
memperhatikanmu. Sejak saat itu aku resmi tahu siapa dia. Kamu kembali
bercerita bahwa teman-temanmu mulai mengejekmu lagi. Kau menangis, tapi kau
tidak berani bilang pada ibumu.
Aku tahu. Kamu
sangat terluka waktu itu.
Saat itu kamu bilang,”Aku
sangat sedih”. Dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipi beningmu.
Menetes dan menyentuhku. Betapa sedihnya
aku waktu itu.
Tapi apa yang aku bisa.....
Suatu malam aku mencarimu. Tidak biasnya kamu berada jauh dari
sisiku. Dan aku melihat raut wajah ibumu yang begitu panik.
Perlahan. Aku pun mulai merasa panik. Kamu kenapa?
Ternyata kamu tergeletak lemas di atas ranjang. Kamu demam. Pantas
saja ibumu begitu khawatir. Desamu adalah sebuah desa terpencil yang jauh dari
layanan kesehatan. Tidak ada dokter maupun mantri di desamu. Jangankan mantri,
guru mengaji pun sangat jarang ditemukan. Tapi pemuda yang waktu itumenolongmu
datang. Dengan raut yang juga panik. Ia menghampirimu. Menyentuhmu....
“Sejak kapan dia seperti ini?”. Tanyanya.
“Aku tidak tahu. Ketika aku masuk ke kamarnya ia sudah seperti
ini”.Lalu ia diam dan tersenyum.
Tersenyum?.Bisa-bisanya ia tersenyum disaat sepeti ini.
“tidak papa,ini hanya karena perubahn cuaca setelah ini ia pasti
akan sembuh”. Katanya menenangkan ibumu.
“Apa itu benar?”.Nampaknya ibumu masih ragu.
“Insya allah”.Jawabnya. Lalu ia pergi,ibumu juga keluar. Tinggal
kita berdua di kamar. Saat itu kamu bilang padaku....
Ia selalu ada saat kau dalam kesusahan.
Oh ya, kau lewatkan sesuatu.
Saat hari ulang tahunmu yang ke-9
Sebuah kado pertama yang kau dapat. Membuatnya menjadi begitu
istimewa meski itu hanya sebuah buku harian. Kau semakin memujinya,
mengagumiya, dan menyukainya. karena sejak saat itu kita mulai berteman.
Sekarang....
Kau tampak tertegun kagum. Betapa perjalanan memori seperti sebuah slide film yang berputar.
Sepertidarmulin dalampasar malam.
Kamu menemukannya.
Siapa dia.
Ya, kau kagum padanya karena ia selalu ada sisimu. Mengapa kau tidak menyadarinya dari dulu.
Ia orang yang dekat denganmu.
Orang itu. Pahlawan itu.
Kau tampak berbinar gembira. Seperti sebuah lampu yang baru saja
dinyalakan. Kau tampak bercahaya. Dalam kesadaranmu akan suatu hal. Ya, kau
memang menemukannya dan aku ikut senang. Kau memelukku erat dan kita
melompat-lompat bersama. Bahagia.
“aku tahu jawabannya” sorakmu bahagia. Kau memelukku semakin erat
hingga aku tak bernafas.
“mau kemana putri?” Tanya ibumu saat kau berlarikeluar rumah pagi
ini. Tentu saja ia bertanya.karena tidak ada jadwal belajar bagimu, pagi ini.
Tapi kau tampak antusias menjawab ibumu, kau tampak berseri.
“aku mau menemui pahlawanku.”
Ku lihat ibumu tersenyummemperhatikan tingkahmu. Bahagia seperti
aku dan kamu.
Kau tidak peduli lagi pada teman-teman kecilmu yang mengajakmu
bermain. Kau tetap berlari. Tetap dengan aku di sisimu, yang diam tak bergerak.
Bahkan mungkin kau tidak peduli bahwa aku tak bernafas.
Efek dari kebahagiaanmu.
“sampai”. Ucapmu lrih menyapu peluh di pipi.
Tepat di depan surau kau berhenti. Menemukan seseorang keluar
darinya. Pasti pak guru. Aku tahu kau akan bilang pada pak Beliau bahwa kau sudah tahu
jawabannya.
Kau memang menunggunya
Dan menunggu
Pak guru keluar dari surau dan langsung menatapmu yang memeng
berdiri tepat di depan pintu surau. Ia tersenyum dan kau juga ikut tersenyum.
“ada apa putri? Tanyannya lembut. Tak pernah berubah. Ia
menghampirimu, berdiri tepat di depnmu.
“pakguru aku sudah tahu jawabannya”. Ucapmu bangga
“o ya, siapa?”
Lalu kau melepasku, tak lagimemelukku. Sebenarnya ku ingin menolak
tapi...
Tangan pak guru yang kini kurasakan. Kekar dan kuatnya ia
memegangku namun enta mengata ini terasa nyaman...
Dan kau bilang...
“pak guru pahlawanku adalah orang yang meberikan diary itu
kepadaku”. Ucapmu sedikit malu...
Dan aku masih diam.
“pahlawanku adalah orang yang selama ini mengajariku menulis dan
mengaji. Yang membuatku mengerti . pahlawanku adalah orang yang selalu sabar
membimbingku. Ia selalu ada di saat aku membutuhkan.”
Kini semua yang lalu bagai awan biru yang penuh ilmu. Memori
berputar dalam setiap kubangan melo di setiap laku. Sebuah ingatan. Sebuah
kejadian. Sebuah kesadaran.
Sekarang aku tahu mengapa aku begitu nyaman di pelukannya. Karena
aku darinya. Kau mengenalku karena ia yang memberikanku padamu. Membuatku
mengenalmu dan kita saling menyayangi.
“pak guru...kaula pahlawanku, kau yang membimbingku, mengajariku,
an selalu ada untukku. Terima kasih pak guru”
Langit waktu itu seakan mendung jika kulihat dari pandangan mata
pak guru. Ia berkaca-kaca. Tak menyangkah ,celoteh seorang gadis yang memiliki
keterlambatan berfikir mampu membuatnya begitu tersentuh, terharu, betapa tuhan
maha penyayang dan adil. Ia yang memberikan semua pengetahuan ini... kesadaran
ini.
Teriama kasih tuhan...

SUBHANALLAH...terkadang memang banyak pahlawan yang luput dari kenangan kita....dan guru....adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang tak kan pernah luput dari ingatanku
BalasHapus