Senin, 20 Oktober 2014

Edit

SENYUM SANG PAHLAWAN

Siang dibawah terik matahari yang menyengat terasa sendu olehku. Diruang
penuh nuansa putih seputih hati seorang wanita yang terbaring lemah dihadapanku. Kini, tergambar jelas dimataku lekukan wajah keriput miliknya. Dia adalah seorang yang menjadi motivator hidupku, pahlawanku, benar, dia adlah ibuku. Tangannya kusentuh lembut sedikit berharap akan membukakan mata indahnya untukku. Kuamati tubuhnya yang semakin kurus pun kulitnya semakin menyusut, keriput
wajahnya menyiratkan banyaknya pengalaman-pengalaman kehidupan.
Pandanganku menerawang jauh, menembus ruang udara, memutar kembali memori kenangan tiga tahun silam disaat ibu mulai melepasku untuk menuntut ilmu dipondok. Mengingat kasih sayang, ikhlasnya cinta dan pengorbanan yang tak mengharapkan balas jasa.

Dua tahun bukanlah waktu lama yang dapat manghapus memori kehidupan. Pikiranku seakan menampakkan slide demi slide kenangan. Dimasa remaja disaat impian-impian muncul dalam benak para remaja. Aku memimpikan kuliah. Bahkan menginginkan. Aku seorang santri pondok pesantren yang belajar tentang impian, usaha dan do’a. bagi seorang santri 3 unsur ini gabungan dari elemen-elemen menuju kesuksesan. Dengan impian aku berusaha dan dengan berdo’a akan mewujudkan setiap usaha. Tapi tak lepas dari itu kuasa Allah. Allah berkuasa lebih dari segalanya. Karena dia sang Mahakuasa. Itupun yang aku rasakan.
*^_^ ^_^ ^_^ *
Pagi yang cerah, matahari tampak menyembul diufuk timur, bersiap memberikan sinarnya menghangatkan tubuh setiap makhluk. Aku memantapkan hati berucap niat berangkat menuju pondok pesantren tercinta, ketika itu aku akan memasuki kelas 3 MA. Kupandang lekat wajah ibu mengharap seuntai do’a darinya. Ibupun mengucap sebait kata penuh makna raihlah ilmu Allah sebanyak mungkin, patuhilah gurumu dan selalulah bersyukur. Tutur ibu sambil mengusap lembut kepalaku. Aku tertunduk haru, kucoba memandang mata ibu, dua mata indah yang kini brkaca dan membasah. Seketika kupeluk erat tubuh ibu, menyatukan bathinku dengan hatinya.
 “Mpun Le…. Cepatlah berangkat, nanti ketinggalan bus.” Suara ibu menyentakkan anganku yang masih ingin berlama-lama dalam pelukan hangat ibuku.
Aku melepaskan pelukanku seraya berkata “Nggeh bu… berangkat dulu… ananda selalu berharap do’a ibu karena do’a ibu adalah kekuatan untuk setiap langkah ananda”.
Kucium punggung tangan ibu meminta restu. Sekali lagi ibu mengusap lembut kapalaku. Sentuhannya adalah suntikan semangat bagiku langkahkan kakiku setapak demi setapak. Kulambaikan tangan tanda perpisahan sementara pada sang ibu hingga tak terlihat jelas tubuhnya.
Langkahku terhenti disebuah halte, menunggu bis kota yang akan mengantarku menuju tempat suci penuh barokah. Tak begitu lama aku menunggu, bis kota yang akan kutumpangi berhenti didepanku, segera kuraih pegangan pintu bis dan menaikinya sambil mengucap basmalah, do’a awal yang penuh makna. Kuedarkan pandanganku mencari tempat duduk kosong. Kutemukan tempat duduk kosong disamping seorang pria, dibangku kedua dari belakang, akupun mangambil duduk disampingnya. Tanpa kuperhatikan seorang disampingku, lamunanku melayang, mambayangkan begitu bahagianya ketika bertemu kembali dengan teman-teman seperjuangan mencari ilmu. Pelukan dan nasehat-nasehat ibu juga turut mendominasi. Tergambar jelas kasih sayang seorang ibu, lembutnya tutur kata, indahnya makna disetiap do’a yang diberikan.
“Zidan!”. Seru orang disampingku membuyarkan lamunanku.
Dia memandangku lekat, memastikan yang duduk disampingnya adalah aku.
 “ Alfin!”.
Aku pun sama terkejutnya. Langsung kupeluk seorang sahabatku itu. Ya, dia sahabat seperjuangan dipondok pesantren.
“Hi.. how are you?”. Ucap kami bebarengan melepas rindu.
“Ups!!”.Aku menyadari ucapan kita bebarengan.
Kami tersenyum simpul dengan perlakuan kami.
“Baik… Baik…”. Jawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
 “Kaifa haluk..?”.Tanyanya padaku. Menggunakan bahasa arab.
 “Okey”. Sahutku singkat,sejenak hening merasuk pada diri kami masing-masing. Kulihat ada rindu yang terselip direlung hati kami.
Bagaimana liburanmu kemarin?”. Tanyaku padanya memecah keheningan diantara kami.
 “Asyik.. Tapi..”. Ungkapnya menggantungkan ceritanya.
Tapi apa?”. Tanyaku penasaran.
 “Entahlah,ceritanya begini.. liburan kemarin benar-benar menjadi pengalaman sekaligus pelajaran berharga buatku”. Sambungnya sambil menerawang dan tersenyum.
 “Hari menggu pertama aku dirumah ada pengajian rutin dimushola dekat rumahku ayah, ibu, adek, semua anggota rumah ikut menghadiri pengajian itu. Awalnya sih, aku malas mengikutinya. Tapi ketika ayah datang kekamarku dan menyuruhku menghadiri pula akupun tak bisa menolak. Dengan sedikit berat hati kuturuni tempat tidur dan mempersiapkan diri seadanya. Kelurgaku sudah menungguku diluar untuk berangkat kesana, sesampainya disana pandangannya tertuju pada sahabat karibku yang berdiri didepan pintu mushola. Dia melihatku dan langsung menghampiriku. Dia menggandengku dan membimbingku masuk ke halaqoh, seakan dia telah menantiku.
 “Ini lho pak, alfin yang dari pondok itu”. Katanya pada seorang lelakiyang terlihat sudah berkepala tiga, yang kutahu dia adalah kepala desa didesa ini. Hatiku sempat berdesir ketika namaku disebut. Lalu aku pun menyimak dan mendengarkan ceritanya dengan mata menyiratkan penuh rasa penasaran. Pak kades menanyakan kabarku tiba-tiba dia menyuruhku untuk mengisi pengajian itu. Karena pada saat itu ustadz yang mereka undang ada halangan dan tidak bisa hadir dimushola.
 “Lalu?”.
 Kupotong kata-katanya dengan hati penuh penasaran.
“waduh… rasanya hati ini berhenti berdetak, seakan waktu berhenti berputar.”
Weleh-weleh..”. Candaku.
 “Beneran… yach.. apa boleh buat, aku yang belum mempersiapkan bekal materi sedikitpun harus menuju kedepan. Dengan sedikit ilmu-ilmu yang kudapat dari pondok kusalurkan lewat pengajian itu. Untungnya ketika selesai mereka terlihat puas dengan apa yang aku sampaikan. Huffft, bener-bener mendebarkan”.
“hehehe…”. Kamipun tertawa bersama-sama, cerita demi cerita, canda demi canda meringankan perjalan kami. Tak terasa kami sudah berada didesa letak pondok pesantren kami. Kami turun bersama dan berjalan berrangkulan menuju pondok pesantren.
 “oh iya, tadi ongkos busnya berapa?”.Tanyaku sambil merogoh saku celanaku.
 “Ah.. ndak usahlah ndak papa.. ikhlas kok hitung-hitung aku shodaqoh..”. Katanya.
 “Nggak ah.. tetap aku bayar… ne.. “. Kuulurkan lembar 20ribuan padanya.
“Ndak papa nanti buat keperlun ente dipondok”. Katanya lagi menggenggamkan uang 20ribuan ditanganku.
 “Udah simpan aja”. Tuturnya.
”Makasih ea..”. Ucapku.
 Kami tersenyum bersama. Aku berucap dalam hati.. ‘alhamdulillah’. Bersyukur kepada sang pemberi rizqi..
Dihari inilah aku memulai perjuangan mencari ilmu Allah yang diibaratkan lebih dari luasnya samudera. Meraih cita-cita, menggapai ketaqwaan kepada Allah. Dipesantren inilah santri diajarkan banyak ilmu bukan sekedar ilmu akhirat tentang tauhid, ibadah, amalan-amalan pada tuhannya, juga ilmu-ilmu dunia sebagai jembatan menuju keindahan akhirat.
*^_^ ^_^ ^_^*
Keluargaku adalah keluarga yang tergolong amat sederhana, rumah yang kecil dengan dua kamar terasa cukup seiring lantunan rasa syukur pada-Nya. Semenjak dua tahun yang lalu, ketika aku menduduki kelas awal Madrasah Aliyah ibu yang bekerja keras membiayaiku, sedangkan ayah entah pergi kemana, ibupun tidak mengetahui keberadaan ayah. Aku berusaha mencarinya ketempat dimana ayah biasa bekerja. Ayah bekerja sebagai penjual balon ditaman kota. Aku terus mencari dan mencari. Namun aku tak menemukannya. Telah kukelilingi taman kota sampai menemui agen balon ayah juga hasilnya nihil. Ayah telah mengundurkan diri sebelum pergi dari rumah. Aku tak tahu apa sebenarnya maksud ayah hingga ibu akhirnya memutuskan untuk menyuruhku meneruskan study dipondok. Pada waktu itu alasan ibu disamping mencari ilmu dunia juga akan mendapat ilmu akhirat pun menghemat biaya kehidupan. Ibu mencoba lebih tegar setelah ayah pergi dari rumah. Bahkan kini akulah yang harus melindungi ibu. Kucoba selalu melukiskan senyum dibibir ibu.
Terselip rasa ragu untuk meneruskan study dipondok. Aku ingin melindungi ibu sekaligus menemaninya dirumah, aku ingin bekerja, mendapatkan uang untuk kebutuhanku dan ibu, kuutaran keinginanku tapi ibu menolak halus keinginanku ‘ibu yakin masih bisa membiayai sekolahmu nak…’ ungkapnya. Maka dari itu berangkatlah belajar dipondok.. insyaallah barokah, itulah kata-kata yang menyuntikkan semangat juangku untuk membuat iu bangga akan belajarku. Padahal ibu seorang penjual gorengan, seorang yang berkepribadian indah dengan kelembutan menurutku, dengan penghasilan yang tak lebih dari 40.000/minggu. Meski begitu ibu selalu berwajah tersenyum didepanku. Aku bisa memahami, merasakan begitu susahnya ibu. Pulang selalu dengan keringat yang turut membasahi kerudungnya.
Sudah hampir dua bulan setelah liburan aku berada dipondok, ibu tak kunjung datang mengunjungiku. Kutitipkan salam untuknya leat bacaan al-waqi’ah kali ini. Aku ingin menghubungi ibu lewat telepon rumah tetangga, tapi itu hanya akan merepotkan tetangga. Tak hanya itu uang sakuku yang sedikit akan terus berkurang, menurutku. Aku yakin Allah selalu menyampaikan rinduku pada ibu, pasti kuselipkan rindu diantara do’a-do’aku.
*^_^ ^_^ ^_^*
Keanggunan sore dengan mega yang sedikit memerah turut mewarnai indahnya langit ciptaan sang maha pencipta. Burung turut bertasbih dengan kicauannya, pohon pun turut bertasbih dengan tarian dedaunan. Terasa lebih indah seiring ungkapan syukur pada Allah pencipta semesta alam, kutatap keindahannya. Diserambi mushola aku merenung. Setiap nikmat berbagai kejadian tersusun begitu sempurna oleh takdir-Nya. Tak dapat terpungkiri kuasa-Nya, hingga baru kusadari nikmat yang kupunyai diberikan Allah kebarokahan. Uang saku 30.000 yang kubawa ketika berangkat tak mengganggu konsentrasi belajarku.
“Zidan.. Disambang..”. Teriak angga teman kecilku juga tetangga rumahku.
 Dia berlari kearahku tergesa-gesa.
“cepatlah ibumu sudah menunggu..”. Katanya seraya menarik tanganku.
Segera aku bangkit mengikuti tarikan tangannya. Ucapan syukur masih terucap dihati. Tarikan tangannya berhenti dan dia mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada ibuku dan langsung pamit menuju kamarnya. Akupun melkukan hal yang sama. Seakan waktu berhenti sejenak membiarkan aku meresapi setiap makna garis keriput tangan ibu.
“Assalamualaikum bu…”. Ucapku meluapkan rindu dalam hati.
“Waalaikumsalam Le…”.
 “Ibu sudah lama? Bagaimana kabar ibu?Sehat?”. Tanyaku tanpa henti.
 Mataku berbinar-binar memandang  seorang yang cantik jelita, menurutku didepan mata. Ibu tersenyum manis mendengar pertanyaanku..
Masih baru nyampai, untung Angga langsung memanggilmu Le… ibu sehat tak kurang apapun”.Terangnya.
Suara halus ibu bagai air segar mengguyur hati yang merindu. Kutatap mata indahnya, seketika kutangkap kesenduan dalam mata indah itu. Lama kuterka makna itu namun sulit kubaca isyaratnya kutepis semua prasangka dalam benakku.
Gimana kabar sekolahmu Le..”. Tanya ibu memecah keheningan diantara kita.
 “Baik bu, lancar. Do’akan zidan terus ya bu… Zidan ingin berhasil menggapai ilmu Allah agar nantinya bisa sukses.. do’a dan restu ibu yang utama.”.
 Kataku. Ibu mengusap kepalaku lembut. Tak sengaja kudengar tarikan nafas panjang ibu.
”Anakku bagaimana jika sekolahmu berhenti dulu?”. Tutur ibu.
Kupandang wajahnya. Terjawab sudah parasaanku tentang kesenduan dimatanya.
“Nanti kalau ada rezeki bisa diteruskan lagi”. Katanya mencoba menenangkanku.
 Memang,aku benar-benar terkejut dengan permintaan ibu untuk menghentikan studyku. Meski ibu mencoba menenangkanku dengan kalimatnya, hatiku masih berkecamuk. Kutundukkan kepala, berpikir, merenung. Hingga ibu mengelus rambutku sekali lagi. Kutatap mata ibu.
“bu.. zidan sedikit lagi akan ujian akhir dan wisuda. Untuk kali ini, Zidan boleh meminta sedikit lagi waktu hingga Zidan wisuda dan menyelesaikan sekolah Zidan..?”. hanya itu yang dapat ku katakan pada ibu dengan berat hati.
Dengan hati penuh pengharapan untuk diperbolehkan melanjutkan belajar hingga wisuda. .
“Anakku, akhirussanah kan kira-kira masih kurang 2 bulan nak....”. Kata ibu pelan.
Semakin kutundukkan kepalaku dalam....berfikir....Ku rasakan mataku memanas. Sebulir air mata menunggu untuk ku teteskan. Dengan sigap ku tahan air mataku agar tak menjadi tetesan kesedihan bagi ibu.
“Oh iya....ini ibu bawakan sedikit jajan”.
Ibu mengambilkan plastik di sampingnya seraya tersenyum. Aku pun membukanya. Ku ambil sebungkus roti dan memakannya. Ku lirik ibu tersenyum melihatku.
Untuk ketiga kalinya ibu mengunjungiku dan ketiga kalinya pula ibu memintaku menyudahi study. Tak henti ku bersimpuh pada Allah. Meminta,memohon nikmat-Nya yang tiada habisnya. Aku akan berkata pada hatiku ‘Aku akan selalu berjuang demi menyelesaikan belajarku dan mendapatkan peringkat sangat memuaskan yang akan ku persembahkan untukmu,ibu.’
*^_^ ^_^ ^_^*
Seminggu lagi ujian akhir sekolah dilaksanakan. Usaha dan doa terus ku tingkatkan. Yang selalu ku ingat adalah perjuangan ibu mencari nafkah,mencari biaya sekolahku hanya dengan plastik besar berisi gorengan yang dijualnya di warung-warung. Aku tak ingin mengecewakan hati ibu kelak.
Dalam segi empat kamar sederhana,aku terhanyut dalam kitab kuning “Fathul Qorib”ku. Membaca baris demi baris,menelaah arti makna yang terkandung dalam kajian kitab fiqh. Ujian pertamaku adalah telaah kitab “Fathul Qorib”. Sehingga aku tentu harus siap dalam setiap materi yang akan diujikan. Ketika angga masuk aku pun mendongakan kepala sekedar melihatnya. Dan lalu tetap berkonsentrasi kembali pada kitab yang ku pegang. Angga duduk di sampingku melihat kitab yang ku pegang.
“Dan...Aku kemarin habis pulang dari rumah....”. Ucapnya padaku dan aku masih membaca kitabku.
“Hemm....”. Responku.
“Dan...Ibumu sakit...”. Ucapnya lirih. Aku pun terkejut. Ku pandang angga dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Iya...Ibumu sakit...”. Ucapnya sekali lagi menyakinkanku.
“Bener....??”. Tanyaku masih ragu akan kabar darinya.
“Iya...Cepatlah pulang...”.
Aku pun masih merasa ragu. Sejenak ku temukan kekhawatiran di mata angga.
“Aku akan pulang...Ujianku...??”. Spontan ku lontarkan kata itu.
Aku pun befikir. Tiga hari lagi aku akan ujian. Dengan bismillah segera ku mantapkan niatuntuk pulang. Segera ku beranjak dari dudukku.
“Aku akan pulang....”. Ku ucap sekali lagi pada angga dan bergegas menuju kantor keamanan untuk meminta izin pulang.
*^_^ ^_^ ^_^*
Bis kota mengantarkanku ke rumah.Sesampainya aku di rumah,aku menemui ibu sedang tertidur pulas. Ku pandang ibu berbaring di kasur dengan wajah pucat. Aku menatapnya. Tak sengaja langkah kakiku membangunkannya. Ibu balas memandangku.
“Ibu baik-baik saja nak....Cuma kecapekan...”. Kata ibu menenangkanku.
“Ibu doakan zidan yah.....besok lusa zidan ujian”. Mohonku seraya mencium tangan ibu.
“Iya nak...pasti....kapan rencana balik ke pondok?”. Tanya ibuku.
“Sampai ibu benar-benar sembuh bu....”. Ibu pun mengelus rambutku penuh kasih sayang.
Keesokan harinya aku bangun dan menemui ibu memasak di dapur. Meski ibu masih terlihat sedikit pucat,ibu tetap tersenyum padaku setelah mengetahui aku berada di sampingnya.
“Ibu tidak apa-apa...ibu sudah sembuh...”. Ucapnya seakan ibu dapat membaca kekhawatiran dimataku.
“Seharusnya ibu istirahat dulu....”. Kataku. Ku rangkul pundak ibu.
“Ibu masakan kamu sup spesial plus kasih sayang”. Kami pun terkekeh bersama.
Seharian ku lalui bersama ibu. Bercerita,bercanda,tertawa. Ibu sudah sembuh. Terlintas kembali dibenakku ujian akhir. Aku yakin ibu sudah sehat. Di sela gurau aku meminta izin pada ibu untuk kembali ke pondok esok hari. Ibu mengangguk dan tersenyum.
*^_^ ^_^ ^_^*
Kini telah tergambar jelas wisudaku. Dua hari lagi wisuda diadakan. Setelah melalui seminggu perjuanganku. Belajar,belajar,dan belajar untuk bisa melalui ujian akhir dengan sukses. Tinggal menunggu lusa meraih kesuksesanku. Ku rasakan hatiku lega dan gembira. Tetapi rasa itu tak lama bersemayam dihati dan tergantikan rasa sedih setelah mendengar bahwa ibu sakit. Tetanggaku menelfonku. Aku terkejut. Aku syok. Sesegera mungkin aku pulang. Seakan rasa lega dan gembira dalam hati sirna seketika. Begitu pun bayanganku akan wisuda pudar sudah. Kekhawatiran menyergapku.
*^_^ ^_^ ^_^*
Sesampainya aku di rumah. Aku terkejut ibu tidak ada di rumah. Tiba-tiba tetanggaku muncul di pintu rumahku.
“Nak...ibumu dibawa pak RT ke rumah sakit”.Katanya.
Lidah ini seakan kelu,tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.’Separah itukah ibu sakit hingga harus di bawa ke rumah sakit?’. Batinku dalam hati. Ku kecup tangan tetanggaku dan pergi ke rumah sakit.
“Rumah sakit medika..”. Teriak tetanggaku dan aku masih mendengarnya.
Ku buka pintu kamar yang bernuansa serba putih. Pak RT manyalamiku.
“Ibumu kritis...sabar nak....”. Bisiknya padaku.
Ku dekati ranjang dan duduk di sampingku. Ku pandang leat wajah ibu yang kini tergolek lemah di hadapanku. Ku pegang tangan ibu. Ku cium tangan penuh garis keriput itu.
Hingga malam,tak sedikit pun mataku terpejam. Malam indah penuh bintang tak memberiku ketentraman. Surat yasin ku lantunkan dengan khusyu’. Ku hadiahkan untuk ibu tercinta berharap akan kesembuhannya.
Aku bersujud pada-Nya. Berqiyamul lail meminta kesembuhan pada sang pengatur kehidupan. Setelah ku usaikan sholatku,aku melihat tangan ibu bergerak. Ku dekati ibu dan ku genggam tangan ibu. Perlahan mata ibu membuka.
“Zidan...”. Ucapnya lirih.
“Nggeh bu zidan di sini”. Jawabku.
Dalam hati aku bersyukur ibu telah sadarkan diri. Langsung ku panggil dokter. Dokter datang dan segera memeriksanya.
“Alhamdulillah...”. Hanya itu ucapan dokter seraya tersenyum padaku.
“Ibu dimana nak.....?”. Tanya ibu parau.
“Ibu di rumah sakit bu”. Ucapku.
“Kenapa?kapan kamu pulang?”. Tanyanya lagi.
“Kemarin bu zidan pulang,ibu istirahat za..biar cepat sembuh..”. Ucapku.
“Raih kesuksesan,raih masa depan cerahmu nak”. Kata ibu mengelus tanganku.
“Iya bu..besok zidan wisuda”. Kataku dan ibu menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum.
“Ibu istirahat,zidan juga jangan lupa istirahat”. Ucapnya.
Ibu memejamkan matanya. Ku tatap wajah tenang ibu tanpa beban.
*^_^ ^_^ ^_^*
Pagi yang cerah. Burung berkicauan riang. Aku terbangun karena usapan lembut di kepalaku
“Ibu..”. Kataku sambil menguap.
“Sholat shubuh dulu nak..”. Ucapnya.
Tak terasa aku tertidur tadi malam. Aku pun segera bergegas mengambil wudhu dan sholat berjamaah dengan ibu. Seusai sholat aku teringat,hari ini adalah hari bahagia untukku. Hari ini aku sebagai peserta wisuda.
“Ibu...bolehkah zidan menghadiri wisuda di pondok zidan nanti bu...”. Mohonku pada ibu
“Berangkatlah nak...Ibu baik-baik saja insyaallah...”.
Aku pun mencium tangan ibu,ta’dzim.
Pintu kamar pun terbuka. Dokter dan suster masuk memeriksa keadaan ibu diikuti pak RT dan bu RT membawakan makanan untuk kami. Ku utarakan maksud hati untuk mengikuti isuda. Mereka bersedia membantuku menjaga ibu sementara.
*^_^ ^_^ ^_^*
Ku langkahkan kakiku bersemangat menghadiri wisudaku di pondok. Sesampainya di pondok teman-temanku menyambutku bahagia. Pak Kepsek mengumumkan murid teladan tahun ini. Di man hal yang paling di nantikan para santri. Saat-saat yang mendebarkan. Waktu itu tak ku sangka aku dinobatkan menjadi murid teldan di madrasah. Kebahagiaanku lengkap sudah. Aku dapat membanggakan ibu. Menggapai impianku untuk bisa melanjutkan ke jenjang kuliah dengan beasiswa yang ku dapat dari penghargaan murid teladan.
Aku segera pulang. Dengan bangga ku bawa pialaku yang akan ku persembahkan untuk ibu.
Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit ingin segera mengabarkan kebahagiaan pada ibu. Dengan sigap ku buka pintu kamar ibu dan berlari kearahnya. Langsung ku taruh pialaku di atas meja di samping ranjang ibu agar ibu dapat dengan mudah melihatnya. Ku peluk pak RT dan bu RT lalu ku cium tangan ibu lembut. Ku nanti ibu membuka matanya dan mengucap selamat kepadaku. Aku duduk di sampingnya masih menggenggam tangan ibu.
Pak RT dan bu RT menatapku. Aku tak sabar menunggu ibu bangun. Hening sejenak. Pak dokter dan suster pun ikut menatapku. Pak dokter memandang pak RT dan pak RT pun menganggukkan kepalanya. Ku lihat pak dokter dan suster membersihkan sekelilingku. Pak RT dan bu RT masih menatapku. Satu detik kemudian seakan aku menydari keheningan yang menyergap ruangan serba putih ini. Aku masih menunggu untuk mengungkapkan kebahagiaan pada ibu. Pak RT mendekat dan merangkul pundakku. Ku rasakan kehangatan tangannya di pundakku.
“Ibumu sudah tertidur tenang...”. Bisiknya pelan. Aku tertegun sesaat. Ku pandang pak RT dan mengelus pundakku. Aku masih berfikir...aku sadar...ku tenggelamkan wajahku di atas tumpuan tanganku.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun....”. Gumamku perlahan.
Ku cium tangan ibu lama. Ruangan seakan menjadi terang dimataku sehingga segalanya ku pandang putih,buram. Berkali-kali ku sebut nama-Nya. Ku ucapkan doa untuknya di setiap hembusan nafasku. Ku cium kening ibu untuk terakhir kalinya. Kebahagiaan berganti dengan nuansa kesedihan yang mendalam. Andai aku boleh memohon,andai aku bisa mengundur waktu,ku ingin ibu melihatku membawa piala kebanggan untuknya. Melihat senyum ketulusannya. Tapi apa daya.
Ku rasakan tangan pak RT dan bu Rt merangkulku mencoba menguatkanku. Ku pandang sekali lagi wajah ibu yang terlihat tenang denganseuntai senyuman simpul di bibirnya. Ku tutup tubuhnya dengan selimut putih perlahan. Ku hapuskan air mata yang menetes. Aku tersenyum ikhlas. Segera ku ambil air wudhu dan ku bacakan surat yasin. Ku hayati setiap makna yang terkandung. Teringat kembali setiap langkah perjuangan,pengorbanan,dan kasih sayangnya di sepanjang hidupnya.
*^_^ ^_^ ^_^*
Aku pulang bersama pak RT,bu RT juga ibunda tercinta. Di depan rumah sudah terkibar bendera kuning. Kembali ku teteskan air mata. Secepat itukah...
Ku antarkan ibu bersama seluruh warga menuju rumah terakhirnya. Bacaan tahlil berkumandang di sepanjang jalan. Dengan taburan bunga melati. Aku tetap tertunduk. Perjuangan,pengorbanan dan kasih sayang yang tiada henti sepanjang hidupku. Kau selalu hadir disaat aku membutuhkan. Selalu menjadi uswatun hasanah untukku. Selalu menghapus setiap kesedihanku. Selalu mengukir kebahagiaan hidupku. Senyummu membimbingku dikehidupanku. Selalu memberi motivasi untuk menggapai suksesku. Selamat jalan pahlaanku,ibundaku. [Endah]   



0 komentar:

Posting Komentar