Senin, 13 Oktober 2014

Edit

Resensi

           
 Apa kalian pernah merasakan darah kalian berdesir saat mendapati sesuatu yang membuat kalian terpukau, meskipun kalian mendapatinya hanya dengan mengandalkan indra penglihatan kalian? Karena aku pernah. Aku merasakannya. Dan aku benar-benar terpukau hingga membuatku merinding. Ah ya, mungkin juga mengandalkan indra perasamu, karena aku, sejujurnya, mendapati diriku menangis diam saat perasaan itu menghampiriku. Perasaan yang campur aduk antara terpesona, terkejut, tidak percaya, sedih, bahagia. Aku merasakan semuanya hingga rasanya hatiku tengah dipermainkan dalamroolcoaster.dan semua itu kudapatkan saat aku membaca.
            

Ya, aku mendapatkan perasaan itu saat aku terhanyut dalam buku yang ada di depan mataku. Dan saat ini buku itu adalah BULAN TERBELAH DI AMERIKA-nya hanum salsabila rais dan rangga almahendra.
            Awalnya aku kira buku itu hanyalah sekelumit cerita travel biasa sebagaimana 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA. Ternyata aku salah. Aku SALAH. Buku itu tidak hanya tentang perjalanan seorang rangga dan hanum, tapi tentang sesuatu yang dasyat tentang islam dan amerika.
            Dua kata yang ternyata saling berhubungan erat. Dua kata yang di luarnya tampak seperti air dan minyak. Tidak bisa menyatu. Tapi sekarang pemahaman baru saya dapat, bahwa tidak bisa bercampurnya dua hal bukan berarti tidak bisanya dua hal itu saling berdampingan.
Islam dan amerika.
            Siapa yang menyangkah bahwa di balik megahnya negeri pamansam itu, negeri yang disegani oleh dunia, ternyata sejarah islam berkembang indah di baliknya. Sejarah dan kisah. Saya tertarik dengan kisah yang sudah tak asing lagi, sebuah kisah gosip yang aku harap bukanlah sekedar gosip. Dan memang begitu adanya. Bahwa sebenarnya penemu amerika adalah seorang saudagar muslim yang sekarang ini di sebut sabagai amerika indiana, sekelompok keturan murni yang terusir dari rumahnya sendiri. Tergantikan oleh sekelompok yang menyakini bahwa penemu benua itu adalah cristopper colombus, kelompok yang begitu barat danbebas. Kelompok yang kini menjadi identitas amerika menggeser identitas sejati sebelumnya.
            Namun saya tetap terpesona dengan adanya nilai-nilai islam yang menjadi pondasi negara tersebut. Nilai- nilai yang dapat ditilik dari adanya motto salah satu presiden ternama amerika thomas jefferont, yang banyak menggunakan kata-kata yang tak asing, alias dari al-quran. Dan tidak bisa di pungkiri bahwa beliau juga mempelajari al-qur’an, yang sekarang di abadikan dalam museum besar di sana.
            Kalian pasti tahu universitas terbesar di sana, juga ternama di dunia. HARVARD. Ya, universitas itu juga sebagi salah satu contoh bahwa amerika tak bisa jauh dari islam. Gerbang gedung universutas itu terdapat salah satu ayat al-quran, yaitu surat annisa’ ayat 135.
            Dan yang paling membuat satya terpesona adalah kisah dimana kejadian runtunya menara kembar yang di sebabkan aksi teroris atas nama jihadis, ternyata embuat mmasyarakat di sana, terutama yang kehilangan keluarga pasca kejadian tersebut menjadi phobia terdahap islam. Dis sinilah aku tidak bisa menyembunyikan tangisku. Aksi teroris itu telah merusak nama baik islam. Aku tidak habis pikir apa yang di pikirkan oleh banyak teroris, terutama yang melakukan aksi bunuh diri. Apa mereka pikir dengan begitu mereka telah berjihad dan mai sebagai syahid? Apa mereka tidak memikirkan dampaknya pada islam, bahwa korban tidak hanya nonmuslim, tapi muslim-muslimah ada yang menjadi korban. Aksi mereka hanya semakin memperburuk nama islam di dunia. Apa mereka tidak malu...
            Jadi jelas benar, bahwa mereka tidak pantas di sebut muslim sejati. Karena muslim sejati adalah mereka yang mencintai sesama dan mencintai kedamaian. Muslim sejati adalah mereka yang menebarkan benih kasih dan sayang di sekitarnnya. Dan muslim sejati adalah muslim yang tahu bahwa Allah SWT sangat melaknat bunuh diri dan telah mengancam bahwa orang yang melakukannya adalah penghuni neraka. Apa mereka tidak pernah berfikir (sakina)..\semester 3\tugas makalah masa'il fiqhiyah.docx
            Sebagaimana kata orang, bahwa yang benar selalu menan. Akhirnya saya terharu saat seseorang mampu mengubah pandangan dunia, meskipun itu bukan muslim. Ia mengatakan bahwa kejadian runtuhnya menara itu bukanlah sebuah issue ke agamaan, melainkan issue kemanusiaan. Ia mengatakan bahwa setiap manusia adalah teroris, jika mereka melakukan hal-hal yang menyalahi norma. Teroris hanyalah orang yang berpikiran pendek yang mengaku telah berjuang untuk kebaikan. Dan di sini saya menangisi dua hal, pertama saya menangis karena terharu. Yang kedua saya menangis karena sedih, mengapa bukan orang islam yang mampu menyadarkan dunia...
            Buku itu juga menyadarkanku, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua adlah skenario tuhan. Allah telah menunjukan betapa Ia begitu maha dasyat dalam rangkaian-rangkaian kejadian yang tidak kita sadari. Siapa yang tahu rahasia di balik hari yang belum kita ketahui...
            Di akhir cerita yang membuat saya menangis terharu, mengingat bagaiman aseorang muslim yang harus berjuang demi islam. Dihimpit oleh tekanan dari keluarga dan lingkunagan yang mengharuskannya melepas islam, dan disisi lain ia begitu mencintai islam. Bagaimana seorang muslimah tersebut harus hidup dalam tekanan batin yang begitu menyiksa. Di hadapan sang ibu ia harus berpura-pura melepas islam, mnyembunyikan hijabnya dibalik rambut palsunya yang indah. Betapa terlukannya ia yang menyaksikan sang putri juga harus mengalaminya, putrinya harus mempelajari al-quran sebagai kitab sucinya dan al kitab sebagai bentuk kasih sayangnya pada sang nenek. Namun jauh di dalam hatinya. Jauh di balik rambut palsunya, ia adalah muslimah sejati. Ia telah memperjuangkan islam dengan caranya sendiri yang menguras batin. Ia rela menanggung semua deritanya, ia telah bersabar begitu lama.
            Dan Allah mennujukan kasih sayangnya, dengan cara yang indah pula Allah membuat dunia membuka mata bahwa islam tidak bersalah. Dan muslimah tersebut mendapat akhir yang indah. Sesuatu membuat mata hati sang ibu terbuka hinngga wanita tua itu memberi penghormatan dan permintaan maaaf yang mendalam pada muslimah itu. Wanita tua itu, sang ibu, telah memasangkan kerudung kepada putrinya di hadapan banyak orang...
            Wanita tua itu, sang ibu, telah melepas putrinya dalam pelukkan islam secara kaffah. Dan aku kembali terseduh setelah menyadari bahwa rembulan adalah saksi bisu terhadap drama anak manusia di muka bumi ini. Rembulan yang jika ia tidak malu pada Allah, ia ingin kembali terbelah, karena ia tidak tahan menyaksian drama anak manusia yang penuh kemaksiatan, kekjian, bahkan kesesatan. Tapi ia hanyalah rembulan, yang hanya di ciptakan menjadi saksi bisu untuk semua kejadian. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya rembulan...
Masih ada banyak yang didapat dari buku itu. Yang membuatku kembali terpesona dan terkejut.

0 komentar:

Posting Komentar