Senin, 20 Oktober 2014

Edit

Kala Cinta

       
    Malam ini, langit Yogyakarta amat kelabu pertanda hujan akan segera turun. Aku baru saja meninggalkan masjid usai menunaikan sholat isya,segera ku percepat langkah agar tak bertemu hujan di tengah jalan nanti. Dan, Alhamdulillah aku sampai di rumah dengan selamat. Aku pun segera menuju ke kamar untuk beristirahat sebab esok aku harus datang pagi-pagi ke kampus,maklum besok adalah hari pertama ujian akhir semester untuk semester yang ke-7 ini. Aku rebahkan tubuh ini, tak sengaja mata ini terpaku pada foto yang ku letakkan di meja yang berada tepat di samping tempat tidurku. Foto itu telah membiusku untuk mengingat kembali kenangan masa lalu bersama orang yang ada di foto yang kini ada di genggamanku.
-

            Aku adalah Irsyad Al-Mubaraq, mahasiswa semester 7 fakultas ekonomi di salah satu perguruan tinggi di kota Gudeg ini. Sedangkan, perempuan yang ada dalam foto ini adalah sahabat masa laluku yang bernama Zelfira Anastasya. Aku telah berpisah dengannya sekitar 7 tahun yang lalu. Tapi, malam ini aku ingin mengenang kembali masa-masa indah bersama Zelfira.

            Zelfira adalah sahabat yang ku kenal sekitar 9 tahun silam, aku mengenalnya saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 1. Awalnya, aku dan Fira hanyalah teman biasa yang tidak saling mengenal satu sama lain. Mungkin Tuhan telah mengatur semuanya. Siang itu,seperti biasa aku dan beberapa teman menunaikan sholat zuhur sebelum pulang sekolah, begitupun dengan Fira. Selesai sholat berjamaah aku pun segera memakai sepatu di teras mushola dan ternyata Fira berada tepat di sampingku. Aku memandangnya dengan penuh tanda tanya, saat itu juga Fira memberikan senyumannya padaku dan aku pun membalasnya.

            Keesokkan harinya, kelas ku heboh sebab ada pembagian ulangan Biologi begitupun dengan kelas-kelas yang lain, termasuk juga kelas Fira. Saat jam istirahat tiba, aku pun bergegas menuju ke kelas Fira yang tak jauh dari kelas ku.

                        ‘Assalamu’alaikum, Fira. Apa kabar?’ Tanyaku pada Fira.
                        ‘Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah aku baik. Ma’af kamu siapa?’ Kata Fira.
                        ‘Aku Irsyad, siswa kelas 1D.Oh iya, nilai Biologi kamu berapa?’ Pasti aku lebih tinggi di atas
                        kamu. Jelasku penuh percaya diri.
                        ‘Oh ya? Memangnya, kamu dapat berapa?’ Tanya Fira padaku.
                        ‘Alhamdulillah, aku dapat 85. Kalau kamu?’ Tanyaku penuh penasaran.
                        ‘Alhamdulillah, aku dapat 92. Punya kamu lebih tinggikan?’ Jawab Fira sambil tersenyum.
            Aku menahan malu setengah mati, tapi senyuman Fira telah buatku lega. Aku salah menilai dia, gadis yang ku kira sombong dan cuek ternyata adalah gadis yang periang dan humoris. Aku senang sebab kini aku  telah tahu siapa sosok Fira yang sebenarnya.

            Hari-hari terus berlalu, namun kini entah mengapa ada yang berbeda dari diriku. Itu semua berkat kedekatanku dengan Fira seorang wanita yang berkepribadian unik dan memiliki segudang prestasi. Semuanya berjalan mengikuti alur takdir yang telah digariskan, suatu hari Fira sempat bercerita padaku.

                        ‘Irsyad, maukah kamu mendengarkan kisahku?’ Tanya Fira.
                        ‘Insya Allah, dengan senang hati aku akan mendengarnya.’ Jawabku.
                        ‘Baiklah. Dulu, jauh sebelum aku mengenal dan bersahabat denganmu. Aku sempat diper-
                        temukan dengan seorang lelaki yang menyayangi, melindungi, dan menjagaku dengan se-
                        penuh hati, dia bernama Ahmad Al-Firdaus. Buatku, ia adalah kakak yang terbaik yang sem-
                        pat dihadirkan Allah untuk menemaniku meski hanya segelintir waktu. Aku pun sempat
                        menjalin persahabatan dengan lelaki yang bernama Rizki Ramadhani. Persahabatanku
                        dengan Rizki berakhir secara sepihak sebab aku terluka dengan sikapnya yang tega me-
                        ngacuhkanku tanpa sebab yang pasti. Saat itu, aku tak mau lagi menjalin persahabatan
                        dengan siapapun. Tapi nyatanya, Allah berkehendak lain. Aku dipertemukan denganmu,
                        Irsyad. Aku merasa sempurna sebab kehadiranmu di sisiku. Aku mulai bisa sedikit melupa-
                        kan luka yang membekas di hati ini. Terima kasih, untuk semuanya.’ Cerita Fira.
                        ‘Fira, aku hadir di sisimu, tak bermaksud untuk menggantikan Ahmad ataupun Rizki. Aku
                        hanyalah seorang sahabat yang Insya Allah selalu ada di setiap suka maupun dukamu. Dan,
                        aku pun bangga dan senang telah bisa menjadi salah satu bagian dari hidupmu.’ Jelasku.

            Entah apa yang kurasa, sejak hari itu aku selalu ingin berada di sisi Fira. Aku mengerti dan paham bahwa Fira pernah terluka dan merasakan kehilangan, aku berjanji pada diriku sendiri sampai kapanpun aku akan selalu menyayangi,menjaga,dan menyemangati Fira semampu dan sebisa apa yang ku punya. Insya Allah. aku senang sebab hadirku bisa selalu membuat Fira tersenyum. Banyak hal indah yang ku ukir bersama Fira. Diantaranya, sholat berjamaah sebelum pulang sekolah, belajar bersama,ke kantin bersama,curhat,bahkan pulang bersama. Sampai pada suatu hari, Fira menyampaikan sesuatu yang buatku senang.

                        ‘Irsyad, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.’ Kata Fira.
                        ‘Tentang apa?’ tanyaku.
                        ‘Tentang nama kita.’ Jelas Fira
                        ‘Nama kita?maksud kamu?’ tanyaku tak mengerti.
                        ‘Begini,tadi malam aku baru tahu kalau ternyata nama kita berdua itu bisa disingkat
                         menjadi satu kata yaitu “IRRA” yang artinya Irsyad-Fira. gimana?bagus kan?’ jelas Fira.
                        ‘Subhanallah, bagus sekali. Kamu ini paling bisa deh.’ Pujiku pada Fira.
                        ‘ Alhamdulillah,terima kasih. Kan itu cuma kebetulan.’ Kata Fira.
           
            Sejak itulah,Fira dan aku semakin mempererat tali persahabatan ini. Sampai pada suatu saat Fira menceritakan bahwa ada lelaki bernama Zulkifli Akbar menyatakan perasaannya kepada Fira. Entah mengapa, hatiku berkecamuk hebat ada sesuatu yang ku rasakan berbeda di hati ini. Mungkinkah aku cemburu?, tak bisa ku gambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Biarlah ini ku simpan sendiri. Waktu terus berjalan, aku dan Fira semakin akrab dan dekat, ku pikir semuanya akan berjalan baik-baik saja tapi nyatanya tidak begitu. Sebab, pada suatu waktu Fira menginginkan untuk memutuskan persahabatan yang sudah 5 bulan berjalan. Siang itu, aku mencoba untuk terus menghubungi ponselnya namun hasilnya nihil. Lalu, ku coba untuk mengiriminya beberapa pesan namun tak juga ada balasan seperti yang ku harapkan. Keesokkan harinya, aku mencoba untuk bicara dengan Fira, dan akhirnya dia pun bersedia untuk bicara denganku.

                        ‘Ada apa lagi, Irsyad?aku tetap akan pada pendirianku untuk mengakhiri persahabatan
                         kita.’ Tegas Fira.
                        ‘Aku butuh penjelasanmu. Sebab, ini hanya keputusan secara sepihak. Fira, aku tak bisa
                         pahami apa yang ada di pikiranmu.’ Kata ku.
                        ‘Begini,aku tidak bisa terus bertahan bersahabat dengan orang yang hanya menerima
sedangkan ia tak pernah peduli apalagi memberi apa yang harusnya ia beri.’ Jelas Fira.
                        ‘Aku tahu bahwa aku salah. Tapi,haruskah ini berakhir?aku berjanji akan memperbaiki-
                         nya. Dan,aku masih ingin menjadi sahabatmu.’ Jelasku pada Fira.
                        ‘Janji?aku akan berikan kesempatan padamu untuk perbaiki semuanya,Irsyad. Jujur,aku
                         juga masih ingin menjadi sahabatmu.’ Tegas Fira.
                        ‘Terima kasih untuk semuanya. Fira adalah sahabat terbaikku. ‘ Jawabku.

            Akhirnya, sesuai dengan kesepakatan, aku dan Fira tetap menjadi sepasang sahabat. Kedekatan kami mulai menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah. Ada pihak yang beranggapan bahwa aku dan Fira berpacaran, ada juga yang beranggapan kita adalah saudara, berbagai macam tanggapan diluncurkan pada kedekatan ini. Awalnya, aku dan Fira bingung harus menanggapi situasi ini dengan cara apa, tapi akhirnya kami telah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hingga suatu saat, aku menyukai seorang perempuan yang bernama Sarah Putri Ningrum. Sarah adalah adik kelasku dan dia pun juga akrab dengan Fira. Dan, aku pun mengutarakan isi hatiku pada Fira, ternyata Fira telah memahami hal itu, akhirnya Fira bersedia untuk membantuku agar bisa dekat dengan Sarah. Betapa kecewanya aku, ketika ku tahu bahwa selama ini Sarah hanya menganggapku sebagai kakak. Fira pun tak percaya dengan semua itu, tapi itu adalah kenyataannya. Aku berusaha untuk berlapang dada menerima keputusan itu, Lagipula, di sisiku telah ada Fira yang selalu ada dan setia di setiap waktuku, dan aku pun telah bahagia dengan apa yang telah ada untukku.

            Persahabatanku dengan Fira terus berjalan, sampai kami lulus dari SMA. Entah mengapa, Fira menghilang tanpa jejak sehari setelah pengumuman kelulusan. Tapi, ada sepucuk surat yang dititipkan Fira untukku melalui Sarah. Dalam surat itu, Fira menulis seperti ini :

                        Assalamu’alaikum.wr.wb
                                    Untuk Irsyad sahabatku, terima kasih untuk semuanya. Semoga kita ditakdir-
                                    kan bertemu kembali di lain waktu dan kamu akan tetap menyayangiku se-
                                    perti hari ini. Simpanlah foto ini, agar kamu selalu mengingatku. Aku berha-
                                    rap semoga perpisahan ini adalah jalan untuk kita memahami apa arti persa-
                                    habatan yang sesungguhnya. Wassalamu’alaikum.wr.wb.
           
            Aku tak paham dengan apa yang terjadi. Tapi, jujur aku sedih sebab aku tak tahu kemana Fira pergi. Aku mencoba untuk menerima semua dengan sepenuh hati. Dan, kini foto yang ku genggam inilah yang menjadi pengobat rinduku pada sosok sahabatku yang bernama Zelfira Anastasya. Karena lelah mengenang masa laluku, aku pun terlelap dengan tetap menggenggam foto itu.

            Tujuh tahun telah berlalu, namun Fira tetap saja menghilang tanpa jejak. Kadang diri ini jenuh untuk menunggu, tapi hati kecil ini sangat yakin kalau suatu hari nanti Fira dan aku akan bertemu kembali, entah kapan. Hari ini, dengan lemas aku datang ke kampus untuk mengikuti ujian akhir semester. Setelah ujian selesai, aku segera berlalu menuju ke kantin, tanpa sengaja aku menabrak seorang mahasiswi yang berakibat buku-bukunya berserakan di lantai.

                        ‘Maaf,maaf. Aku gak sengaja. Kamu gak papa kan?’tanyaku.
                        ‘Gak papa kok, aku yang ceroboh. Maaf ya!’ Katanya.
                        ‘Maaf, nama kamu siapa?kamu mahasiswi baru ya?’tanyaku.
                        ‘Iya, namaku Annisa Nur Azizah. Biasa dipanggil Nisa. Jurusan Sastra Jepang,
 Tingkat 4.’ Kata Nisa.
                        ‘Aku Irsyad. Irsyad Al-Mubaraq. Mahasiswa ekonomi tingkat 7. Kalau
                         kamu mau aku bersedia menjadi temanmu.’ Tawarku.
                        ‘Alhamdulillah, dengan senang hati dan mulai sekarang kita berteman.’ Ujar Nisa.
           
            Aku dan Nisa akhirnya menjadi sepasang teman yang kompak dan akrab. Entah mengapa, aku seperti menemukan sosok Fira pada diri Nisa. Nisa selalu membuatku nyaman, tenang dan semangat dalam menjalani hari-hariku. Kedekatanku dengan Nisa berjalan sesuai dengan hembusan angin takdir, dan itu membuat kami saling jatuh cinta lalu memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Pada suatu hari, Nisa mengajakku untuk mampir ke rumahnya sebab ia ingin memperkenalkanku dengan kakaknya yang baru saja selesai studi di Negeri Mesir.

            Menjelang hari perkenalan itu, hati ini menjadi galau dan otak ini terus saja mengingat Fira. Mungkin aku harus jujur, bahwa Fira adalah sahabat sekaligus cinta pertama yang dihadirkan Allah untukku namun sampai ia pergi aku belum sempat untuk mengungkapkannya pada Fira. Namun, Allah telah memberiku seorang wanita yang begitu berarti dalam hidupku yaitu Annisa Nur Azizah. Aku telah berusaha untuk mencintainya tapi sebagian hati ini masih menginginkan Fira. Ya Rabb, salahkah hamba jika hati ini lebih memilih Fira?Aku benar-benar tak sanggup untuk menyakiti siapapun, aku yakin Allah akan memberikan petunjuk-Nya. Amin ya Rabb.

            Hari yang ku nanti akhirnya tiba, untuk bertemu Nisa dan keluarganya. Aku mengenakan kemeja putih dan celana jins yang dipadu oleh sepatu coklat sedangkan Nisa mengenakan busana muslimah berwarna hijau muda serasi dengan jilbab yang dikenakannya membuat ia begitu terlihat cantik dan anggun, ia berjalan beriringan sambil menggamit seorang wanita yang tak kalah cantiknya. Wanita itu tampil dengan busana muslimah berwarna biru muda dan terlihat sangat mempesona. Akhirnya, mereka berdua sampai di hadapanku. Tapi, hatiku tersentak, tubuh ini seperti ingin ambruk, nafasku pun seakan berhenti. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kini ada di hadapanku, sebab wanita yang berbusana biru muda itu adalah kakak kandung Nisa dan ia adalah Zelfira Anastasya,wanita yang hadir di masa laluku dan telah membiusku dengan kasih sayang tulusnya,dia juga sahabat sejati sekaligus cinta pertama yang dulu sempat hadir dalam kehidupanku. Fira menatapku, seakan ia juga tak percaya dengan pertemuan ini. Tapi, terlihat ia enggan untuk menegurku selayaknya sahabat yang baru saja dipertemukan kembali oleh takdir-Nya.

                        ‘Irsyad, ini Kak Zelfi.Zelfira Anastasya. Kakak ku satu-satunya.’ Jelas Nisa.
                        ‘Aku Irsyad. Irsyad Al-Mubaraq. Senang bisa bertemu denganmu.’ Kata ku.
                        ‘Aku juga. Salam kenal, Irsyad. Semoga kamu bisa mendampingi adikku yang
                         manja dan pemalu ini.’ Canda Fira.
                        ‘Ah, kakak. Aku kan jadi malu.’ Kata Nisa sambil tersipu.
                        ‘Maaf, Irsyad,Nisa. Aku harus pergi. Lanjutkan, saja ngobrol-ngobrolnya.’ Ujar Fira.
                        ‘Baik,kakak ku tersayang.’ Kata Nisa penuh manja.

            Fira telah berlalu, meninggalkanku bersama Nisa. Aku merasa ada yang ganjil dari tingkah laku Fira. Aku merasa ia telah membuat jarak antara aku dengannya. Ia bahkan enggan untuk memandangku saat pertemuan tadi. Menurut cerita Nisa, Fira melanjutkan studinya di Mesir sejak lulus SMA dan menetap di sana selama 7 tahun, dan baru kali ini ia kembali ke Indonesia. Sosok Fira kini telah banyak berubah, tapi bagiku Fira tetaplah sahabat sekaligus cinta pertama yang telah membuatku tak mampu untuk melupakannya. Ya Rabb, haruskah aku melukai hati wanita yang ada di hadapanku ini?, hanya karena hatiku lebih memilih Fira yang jauh telah memberikanku kasih sayang sebelum takdir mempertemukanku dengannya. Ya Rabb,tunjukkanlah siapa yang terbaik untukku?.

            Waktu telah beranjak sore, aku pun pamit untuk kembali ke rumah pada Nisa dan keluarganya, tapi aku tak melihat Fira. Aku pun beranjak pulang, tepat di pintu depan rumah Nisa, aku berpapasan dengan Fira, kami saling bertatapan dan Fira segera menunduk sambil tersenyum. Ya Allah, senyuman itu yang ku nanti dan ku rindukan selama 7 tahun ini, akankah ia juga merindukanku?. Astagfirullah, berfikiran apa aku ini?. Aku segera mempercepat langkah ini ke rumah agar tidak terlambat untuk melaksanakan sholat maghrib di masjid. Tapi, hati ini tak henti-hentinya menjeritkan nama Fira, wanita yang selama 7 tahun ini ku nanti untuk membasuh jiwa ini yang telah lama mengering dan hati ini yang selalu galau saat ku memikirkannya. Dia benar-benar mampu membuatku tak berdaya dan selalu penuh dengan misteri.

            Aku baru saja selesai menunaikan sholat isya, ketika handphoneku berdering dan ternyata Nisa yang meneleponku. Dia memberitahuku bahwa keluarganya mengundangku untuk menghadiri acara jamuan makan malam dalam rangka menyambut kembalinya Fira ke Indonesia yang Insya Allah akan dliaksanakan pada hari sabtu malam  pada minggu ini. Nisa pun mengingatkanku agar aku mengajak abi dan ummi pada malam jamuan tersebut, aku hanya berkata Insya Allah pada kekasih hatiku itu. Malam itu, aku begitu gelisah sebab bayangan Fira dan Nisa terus saja menghantui pikiran dan benakku ditambah lagi abi dan ummi menyetujui untuk datang ke acara makan malam tersebut, hingga dini hari aku belum juga memejamkan mata ini walau hanya sekejap saja. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunaikan sholat malam agar hati dan jiwa ini kembali tenang dan tentram. Alhamdulillah, seusai sholat aku merasakan kenyamanan dalam hati dan jiwaku ini. Namun, aku enggan untuk memejamkan mata ini sebab hari telah memasuki waktu subuh. Adzan subuh telah berkumandang,segera ku persiapkan diri untuk sholat berjamaah dan tak lupa ku kirimi pesan singkat pada Nisa agar segera bangun dan menunaikan sholat subuh.

            Pagi telah menjelang, aku telah bersiap-siap untuk menuju ke kampus. Setelah pamit pada abi dan ummi, aku segera meluncur dengan mobil pribadiku. Sesampainya di kampus,ternyata Nisa juga baru tiba bersamaan denganku, aku pun segera menuju ke mobilnya dan ternyata Fira juga ada di sana. Aku mengucapkan salam pada keduanya,dan mereka pun menjawabnya sambil tersenyum. Setelah aku bertanya pada Nisa, ternyata Fira telah bekerja sebagai asisten dosen di Fakultas Psikologi di universitas ini dan membina sebuah yayasan panti jompo yang ada di Yogyakarta ini. Ternyata, Fira tak pernah berubah selalu peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya,walaupun ia harus mengorbankan apa yang dimilkinya. Nisa juga menceritakan bahwa selama ini Fira tinggal bersama pengasuh pribadinya yang rumahnya  tepat berada di belakang gedung sekolah SMA-nya dulu. Pantas saja,aku mengira bahwa Fira adalah anak tunggal dan aku juga tak mengenal Nisa sebelumnya. Dan,Fira baru ingin tinggal bersama keluarganya saat ia telah menyelesaikan studinya di Mesir.

            Hari sabtu telah tiba,itu artinya malam ini aku dan keluarga akan memenuhi undangan makan malam dari keluarga Nisa,kekasih hatiku. Aku telah menceritakan semuanya pada ummi,tentang apa yang terjadi antara aku,Fira,dan Nisa. Ummi hanya menyuruhku untuk menjaga hati dan diri ini dari godaan wanita, dan harus bisa memilih sesuai dengan petunjuk dari-Nya. Akhirnya ba’da Isya tiba, aku dan keluarga bergegas menuju ke kediaman keluarga Nisa. Sesampainya, di sana kami disambut dengan ramah oleh keluarga itu. Setelah ngobrol untuk saling mengenal, makan malam pun dimulai. Aku duduk berdampingan dengan Nisa dan berhadapan dengan Fira. Hatiku benar-benar galau, ingin ku berteriak agar semuanya mengerti dengan apa yang ku rasakan. Aku pun tersentak saat abi Nisa menanyakan kapan akan bertunangan dengan putri bungsunya itu, bagaimana aku bisa menjawabnya kalau jiwa dan hati ini masih saja memikirkan Fira. tapi entah mengapa, aku bisa menjawab Insya Allah secepatnya. Setelah aku menjawab, aku mencuri pandang pada Fira dan aku menemukan sirat kekecewaan di wajah ayunya. Meski saat itu, Fira sempat memberiku senyuman bahagianya. Fira, apa yang sesungguhnya telah terjadi? tanya ku dalam hati.

            Setelah makan, aku mencoba menyendiri di tepi kolam renang yang ada di samping ruang makan tadi. Saat aku sedang merenungi hati ini,tiba-tiba ada seseorang yang datang sehingga aku terkejut dengan kedatangannya tersebut. Namun, ketika ku menengok ke belakang, hati ini berdesir dengan begitu hebatnya sebab orang tersebut adalah Fira,wanita yang telah memiliki tempat di sebagian hati ini.

                        ‘Bagaimana kabarmu?sahabatku.’ Tanya Fira sambil tersenyum.
                        ‘Alhamdulillah,aku baik. Fira,ada hal yang harus ku tanyakan padamu.
                        ‘Aku juga ingin menjelaskan suatu hal padamu,Irsyad.’ Kata Fira.
                        ‘Baiklah,apa yang ingin kamu jelaskan padaku?’ Tanya ku pada Fira.
                        ‘Begini,aku ingin meminta maaf padamu,Irsyad. Dulu,aku pergi tanpa
                         pamit padamu,kecuali sepucuk surat dan sebuah foto yang ku titipkan
                         pada Sarah. Kamu tahu,itu semua ku lakukan sebab aku tak ingin melihatmu
                         sedih. Irsyad,aku kembali dengan harapan agar ku bisa kembali bertemu
                         denganmu,dan Alhamdulillah harapan itu menjadi kenyataan. Dan,aku
                         hadir kembali dalam kehidupanmu saat kamu telah menemukan orang
                         yang tepat untuk menjadi pendampingmu di dunia maupun di akhirat nanti.
                         Insya Allah. Cintai dia karena Allah dan bahagiakan dia dengan sepenuh
                         hatimu.’ Jelas Fira.                
‘Insya Allah,aku akan mencintai Nisa seperti apa yang diajarkan dalam Islam.’                Jawabku.
                        ‘Alhamdulilllah,terima kasih atas semuanya.hal apa yang ingin kamu tanyakan
                         padaku? Silahkan,Irsyad.’ Pinta Fira.

            Belum lagi aku sempat bertanya,Nisa datang menghampiri aku dan Fira. aku benar-benar terkejut dengan kehadirannya.

                        ‘Kakak,dari tadi aku mencarimu. Ternyata,kamu di sini.’ Kata Nisa.
                        ‘Maaf,adikku sayang.Kakak sedang bicara dengan calon pendampingmu ini.’ Canda Fira.
                           'Irsyad,apa yang dikatakan kakakku ini padamu?’ Tanya Nisa.
                           ‘Kakak mu yang satu ini berpesan padaku agar aku mencintaimu dengan sepenuh hati
                        dan karena Allah. Annisaku Sayang.’ Jawabku
‘Irsyad,kamu ini berani sekali memanggilku sayang di hadapan kakak. Aku kan jadi malu.’ Kata Nisa sambil tersipu.
                        ‘Irsyad berhak memanggilmu dengan sebutan itu,Nisa. Itu artinya,dia benar-benar
                         mencintaimu. Sepertinya,sudah waktunya kita untuk masuk ke dalam. Pasti meraka
                         telah menunggu kita.’ Kata Fira.
            Setelah sampai di dalam,abiku dan abi Nisa telah bersepakat untuk melaksanakan pertunanganku dengan Nisa bulan depan. Mereka pun bertanya padaku,dan jawabanku adalah Insya Allah,aku siap. Entah apa,yang ada di benakku sehingga aku bisa memberikan jawaban seperti itu. Aku melirik ke arah Fira,dan ia membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman pertanda bahwa ia pun setuju dengan jawaban itu. Ya Rabb,apakah ini petunjuk yang Kau beri padaku?Bantu aku untuk memilih sebelum semuanya terlambat,kataku di dalam hati.

            Waktu terus berlalu,sepekan lagi aku akan bertunangan dengan Annisa. Hati ini terus saja menjeritkan nama Fira. andai,Fira mau memahami apa yang ku rasakan padanya. Tak ada jalan lain, aku harus menngungkapkannya pada Fira sebelum semuanya terlambat. Siang itu, aku menuju ke panti jompo di mana Fira sedang bekerja sekarang. Setibanya di sana, aku melihat Fira nampak asyik bercerita dengan seorang nenek dan seorang laki-laki yang sepertinya seumuran denganku. Aku pun segera menghampiri mereka.

                        ‘Assalamu’alaikum.’ Sapaku pada mereka.
                        ‘Wa’alaikumsalam,Irsyad. Ada apa?’ Tanya Fira.
                        ‘Maaf mengganggu,Fira aku ingin bicara denganmu.’ Jelas ku.
                        ‘Baiklah,ayo Irsyad ikut aku. Kita ngobrol di taman belakang saja.’ Kata Fira.

            Setelah pamit pada nenek dan lelaki itu,aku dan Fira bergegas menuju ke taman belakang. Kami duduk di sebuah bangku yang tepat berada di bawah pohon yang rindang.

                        ‘Irsyad,aku ingatkan padamu.Lain kali kalau ingin ke sini jangan sendiri.
                         Kamu kan bisa mengajak Nisa.’ Tegas Fira.
                        ‘Maaf kan aku,Fira. kalau kedatanganku membuatmu merasa tak nyaman.’ Kataku.
                        ‘Baiklah,kali ini aku bisa memaklumimu.Lalu,hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan
                         ku?sampai-sampai kamu harus menemuiku di sini.’ Tanya Fira.
                        ‘Bismillah,Fira. Pernahkah kamu jatuh cinta?. Tanyaku.
                        ‘Irsyad,apa maksudmu?’ Tanya Fira penasaran.
                        ‘Begini,jauh sebelum aku mengenal dan mencintai adikmu,aku telah mencintai seorang
                         wanita. Dia telah membasuh jiwaku dengan ketulusan hatinya,dia telah menggetarkan
                         hatiku saat aku bersamanya. Tapi,belum sempat aku mengungkapkannya wanita itu
                         menghilang.entah ke mana?aku gelisah saat ku memikirkannya. Aku paham bahwa aku
                         telah mencintainya. Tapi,aku juga tak kuasa membendung rasa sayangku pada Nisa.
 Hati ini juga telah mengukir nama Nisa dalam setiap jejak hati ini. Jujur,aku tak tega  untuk menyakiti siapapun. Tapi,aku harus jujur padamu. Demi Allah,aku lebih mencintai dan menginginkanmu,karena wanita itu bernama Zelfira Anastasya.’ Jelasku.
                        ‘Astagfirullah,Irsyad. Nafsu apa yang telah menguasai hatimu?mengapa kamu tega ber-
                         kata begitu padaku?Irsyad,aku ini sahabatmu. Tak sepantasnya kamu berkata begitu
                         padaku. Annisa itu adikku,sedikitpun aku takkan tega untuk merusak kebahagiaannya.
                         Jangan gegabah,Irsyad.’ Tegas Fira padaku.
                        ‘Aku mengerti,Fira. tapi, salahkah aku jika ku miliki rasa ini padamu?jujur,aku mencintaimu
                         jauh sebelum ku mengenal Annisa. Saat ku melepas kepergianmu yang tiba-tiba,aku
                         telah berusaha untuk melupakan dan berhenti berharap padamu,tapi cinta suci ini
                         menghunjam terlalu dalam di hatiku. Saat aku putus asa,Nisa hadir dengan segala apa
 yang dimilikinya,dan aku seperti menemukan sosok dirimu pada dirinya. Dan,akhirnya   kini ku sadar bahwa Nisa adalah salah satu bagian dari hidupmu. Tapi, apakah aku salah, jikaAllah lebih memilihmu,untukku?.’ tanyaku lagi.
                        ‘Aku tak tahu,Irsyad. Hatimu itu milik Allah. Tapi,aku lebih senang jika kamu bersanding
                         dengan adikku, Dia adalah wanita yang telah dirimu pilih dan kamu pun  telah mencin-
                         tainya dengan sepenuh hati dan karena Allah pun kamu menyayanginya. Aku tak bisa
                         memberikan apa yang telah Nisa berikan padamu,jangan kecewakan dia,Irsyad. Aku
                         juga sahabatmu yang tak mungkin mengecewakannya.’ Kata Fira.
                        ‘Baiklah kalau itu keputusanmu,Insya Allah aku ikhlas menerimanya. Tapi,aku hanya
                         ingin tahu seperti apa perasaanmu terhadapku selama ini,Fira?. Aku sangat berharap
                         kamu menjawab dengan jujur sesuai dengan hatimu.’ Pintaku pada Fira.
                        ‘Baiklah,Irsyad. Dulu aku sempat memiliki rasa cinta itu padamu. Tapi aku salah me-
                         mahami perasaan itu,aku hanya menyayangimu sebatas sahabat,aku telah mencintai
                        seseorang dalam hidupku namun ia telah lebih dulu meninggalkanku.Sang Khalik telah
                        memanggilnya. Aku sudah tak ingin lagi mencintai yang lain,termasuk dirimu. Dia ada-
lah Maulana Firdaus Al-Farizi. Maafkan aku,sebab aku belum pernah sekalipun        menceritakannya padamu.’ Jelas Fira.
                        ‘Terima kasih,atas semua penjelasanmu. Maaf aku telah mengganggu waktu kerjamu.
                         Aku permisi. Assalamu’alaikum.’  Pamitku pada Fira.

            Aku telah berlalu dari panti jompo tempat Fira bekerja. Hati ini hancur tak terkira. Aku tak menyangka bahwa Fira telah mencintai seseorang dengan cara yang mulia. Dalam hidup ini,aku paham bahwa Fira pun berhak memilih yang terbaik dalam hidupnya. Namun,aku masih merasakan kecewa pada diriku sendiri,aku merasa bersalah telah mencintai sahabatku sendiri. Tiba-tiba handphoneku berdering,seseorang telah meneleponku. Dia mengatakan bahwa Annisa menjadi korban tabrak lari dari sesorang yang tak dikenal. Hatiku benar-benar tak bisa ku kendalikan,benar-benar kalut semuanya. Aku segera meluncurkan mobilku menuju ke rumah sakit tempat Annisa dirawat sekarang.  Sesampainya di sana,Nisa telah ditangani dokter di ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Aku benar-benar khawatir akan dirinya, sebait do’a telah aku panjatkan pada Allah, agar Nisa mampu bertahan melawan rasa sakitnya. Lima menit kemudian,keluarga Nisa datang dan menghampiriku. Abi Nisa memelukku, sedangkan Ummi memeluk Fira. Satu jam telah berlalu,akhirnya dokter pun keluar dengan wajah yang sulit ditebak. Ya Rabb, apa yang terjadi dengan Annisa di dalam sana? Gumamku dalam hati.
                        ‘Maaf,kalian keluarga dari pasien yang di dalam?.’ Taanya dokter.
                        ‘Benar,dok. Saya ayahnya. Bagaimana keadaan putri saya?’ Tanya abi.
                        ‘Berdo’alah,agar putri anda mampu melewati masa kritisnya. Dia mengalami penda-
                         rahan di otaknya dan matanya pun mengalami gangguan,kemungkinan besar ia
                         akan mengalami kebutaan total.’ Jelas sang dokter.
                        ‘Tapi, masih adakah cara untuk menyembuhkannya?’ Tanyaku.
                        ‘Ada,tapi itupun belum bisa sembuh secara maksimal.’ Jelas sang dokter.

            Mendengar pernyataan itu,tiba-tiba saja Fira jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Ummi dan Abi telah membawanya ke ruang pengobatan. Sedangkan,aku menuju ke ruang tempat Nisa diinapkan. Hati terenyuh ketika menatap wajah wanita yang ku sayangi itu,aku pun teringat percakapan antara aku dengan kekasihku itu 3 hari sebelum ia mengalami kecelakaan tersebut.

                        ‘Irsyad,apakah kamu benar-benar mencintaiku?’ Tanya Nisa.
                        ‘Aku rasa jawabannya itu ada di hatimu.Annisa.’ Jawabku santai.
                        ‘Hatiku berkata kamu pernah mencintai yang lain sebelum aku.Benarkah?’ Tanya Nisa.
                        ‘Aku rasa hatimu itu,masih salah arah dalam merasakan hatiku.’ Jelasku.
                        ‘Tapi,aku benar-benar serius dengan apa yang ku tanyakan ini. Jawablah!’ Pinta Nisa.
                        ‘Baiklah.Dengarlah Anissa,aku tak mungkin bisa lagi mengukir nama yang lain di hatiku.
                        Sebab ,aku telah memenuhi setiap sudutnya dengan nama seorang wanita yang selama
                         ini selalu ada di sampingku dan juga telah menerimaku apa adanya. Wanita itu telah
                         singgah di hati ini. Dia adalah Annisa Nur Azizah. Kau mengenalnya,bukan?’ Jawabku.
                        ‘Irsyad jawabanmu telah membuat hati ini menjadi lega mendengarnya. Aku telah
                         berburuk sangka padamu dan hatimu. Maafkan aku.’ Kata Nisa.
                        ‘Aku rasa tak perlu memaafkan orang yang tak miliki salah apapun padaku. Dengarlah
                         dan tanamkan di hatimu bahwa aku akan tetap mencintaimu apapun keadaanmu,aku
                         tak mungkin lagi untuk membagi cintaku pada yang lain,sebab dirimu pun telah ada di
                         hati ini.Jadi,jangan khawatir pada cintaku,Sayang.’ Jawabku.
                        ‘Irsyad,belum pantas kamu memanggilku dengan sebutan seperti itu.’ Kata Nisa.
           
            Itulah percakapanku dengan kekasih hatiku yang kini telah terbaring lemah di dalam ruangan tersebut,hatiku begitu lemah otakku tak lagi mampu berfikir jernih. Dunia ini terasa mati,aku terpukul dengan apa yang terjadi di hadapanku.Namun,tiba-tiba aku mengingat Fira,bagaimana keadaannya setelah pingsan tadi?segera ku kirim sebuah pesan singkat pada Ummi Nisa untuk menanyakan keadaan Fira, Tak lama kemudian ,handpahoneku berdering tanda sebuh pesan masuk,lalu aku pun membaca pesan tersebut yang ternyata adalah balasan pesan dari Ummi,beliau mengatakan bahwa Fira telah siuman dan kini masih terbaring lemah di ruang perawatan,aku pun segera mengirimi sebuah pesan pada Ummi bahwa aku sedang menunggui Nisa di kamarnya. Aku pun teringat bahwa aku belum menunaikan sholat zuhur,segera ku berlalu menuju ke mushola rumah sakit untuk menunaikannya. Aku berdo’a pada Sang Pencipta agar menyembuhkan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupku.

            Lima hari telah berlalu,tapi Nisa tak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar dari komanya. Hari ini aku dan Fira yang bertugas untuk menunggui Nisa. Hati ini tak pernah menyangka bahwa ruangan tempat Nisa dirawat akan menjadi saksi bisu dari peristiwa yang membuat hati ini tak henti-hentinya untuk bersyukur. Setelah menunaikan sholat subuh di mushola bersamaku,Fira mendekati tempat tidur adiknya dan duduk di sampingnya dengan posisi wajahnya didekatkan pada wajah Nisa dan kemudian berbisik pada adik tercintanya tersebut.

                        ‘Assalamu’alaikum, Annisa. Ini Kak Zelfi.Bagaimana keadaanmu hari ini?Aku selalu
                         berdo’a agar dirimu baik-baik saja. Aku di sini bersama kekasihmu,Irsyad. Apakah
                         kau tahu? Dia adalah sahabatku yang sangat ku sayangi,aku bertemu dengannya
                         ketika aku duduk di bangku SMA.Tepat 5 tahun setelah aku berpisah dengan Kak
                        Firdaus. Kau beruntung bisa mendapatkan hatinya,sebab dulu ia pernah kecewa dengan                seorang wanita bernama Sarah. Apakah kau tak ingin melihat kekasihmu adikku?
                        Ia ada di sini bersamamu,dia sangat mencintai dan setia padamu. Dengan menyebut nama Allah, ayo sayang buka matamu. Kakak dan Irsyad sangat merindukanmu. Ayo sayang,bangunlah.’ Kata Fira dengan sedikit terisak.

Aku benar-benar tersentak dengan apa yang dilakukan Fira. Dan, Subhanalllah Annisa membuka matanya dengan perlahan, aku dan Fira mengucap hamdalah dan Fira segera memeluk adiknya sementara aku memberikan kabar bahagia ini pada orang tua kami masing-masing. Annisa tersenyum menatapku dan aku pun membalasnya. Fira ingin segera beranjak dari ruangan ini, tapi Nisa telah lebih dulu mencegahnya dan memberi isyarat bahwa ia ingin bicara dengan aku dan Fira.
                       
            Memahami apa yang diminta sang adik, Fira membantu Nisa untuk duduk bersandar pada bantal yang telah ku ubah posisinya. Aku berada di sisi kirinya dan Fira berada di sisi kanannya. Mata Annisa menatap aku dan Fira penuh seksama namun ia tetap mengulum senyum manis di bibirnya. Entah mengapa aku dan Fira  nampak canggung saat Nisa memperlakukan kami dengan cara seperti itu. Suasana hening sesaat, sebelum akhirnya Nisa memulai pembicaraannya.
                        ‘Aku bahagia bisa mendapatkan kesempatan untuk berada di tengah-tengah kalian
                         berdua, Kak Zelfi adalah kakak tunggalku, dan Irsyad adalah kekasihku.Awalnya, ak
                        tak bisa merasakan apa yang ada di antara kalian berdua, namun hari ini Allah mengizinkanku untuk merasakan apa yang ada di hati kalian.Kak Zelfi, Irsyad ini sahabatmu yang telah jatuh cinta padamu,aku bisa rasakan setiap getar tubuhnya saat ia menatap dirimu, aku bisa merasakan degup jantungnya saat ia menyebut namamu. Dirimu tak pernah absen dari bahan obrolan kami.Dia memang mencintaiku, tapi hatinya lebih                memilihmu. Aku mohon bukalah hatimu untuknya.’ Terang Nisa.

Aku dan Fira tersentak, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Nisa. Mengapa ia bisa merasakan apa yang aku rasakan pada Fira?,aku tak paham atas apa yang terjadi hari ini. Suasana tiba-tiba hening dan mencekam di hatiku,kami semua terjebak dalam pikiran masing-masing sampai pada akhirnya Fira menaggapi pernyataan yang tadi diucapkan oleh Nisa.

                        ‘Nisa,adikku. Aku memang lebih dulu mengenal Irsyad sebelum dirimu, sebab ia adalah
                         sahabatku sejak aku duduk di bangku SMA. Aku sangat mengenal dan memahami ia
                         sepenuh hatiku, Aku juga menyayanginya dengan tulus. Tapi, maafkan aku, aku tak
                         bisa mencintai dia dan aku jauh lebih merestuinya untuk bersanding denganmu.
                         Aku tak ingin menyakiti hatinya, sebab ia pernah menelan kecewa. Aku hanya men-
                         cintai sebuah nama di hati ini. Dan,dia adalah Maulana Firdaus Al-Farizi, walau  dia
                         telah menghadap Illahi, tapi cintanya tetap menjagaku di sini, aku sangat mencintanya.
                         Maafkan aku, aku tak bisa.’ Ucap Fira lirih.
Fira berlalu dengan keadaan terisak, ia menangis. Hatiku hancur, jiwaku luruh. Aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi pada Fira. Aku tertunduk begitu dalam, Nisa menatapku dengan perasaan yang sulit untukku tebak. Aku telah menghancurkan hati sahabat sekaligus cinta pertamaku. Aku benar-benar
jahat dan egois, seakan mengerti apa yang ku rasakan Nisa menyuruhku pulang untuk menenangkan hati dan pikiranku, aku pun pamit dan berlalu dari pandangannya. Aku bukannya tak ingin menatap Nisa, tapi aku tak kuasa untuk itu karena sebenarnya Nisa pun telah meneteskan airmatanya. Aku sebenarnya ingin menemani Nisa, tapi ia sudah kebih dulu menyuruhku untuk pulang dan menenangkan hati ini. Hati ini menangis, sebab aku telah menghancurkan hati dua wanita yang berarti setelah ummiku.

            Tak terasa hari pertunanganku dengan Annisa semakin dekat, dan keadaan Nisa pun berangsur-angsur pulih. Ternyata vonis dokter kepada Nisa tak sama dengan apa yang ditakdirkan Sang Pencipta. Aku bahagia, tapi sebagian hati ini masih saja menangis sebab aku belum meminta maaf pada Fira yang telah ku lukai hatinya, memang sejak kejadian itu ak sudah jarang bertemu lagi dengan Fira, dan aku juga tengah sibuk kuliah dan mempersiapkan pertunanganku dengan Nisa. Hari ini aku dan Nisa pergi ke butik, untuk mencoba baju yang telah dirancang oleh seorang perancang pilihan yang ditunjuk oleh ummiku. Selama dalam perjalanan, aku dan Nisa terbawa pada lamunan kami masing-masing, sebelum akhirnya Nisa mengajakku untuk bicara.

                        ‘Irsyad,mengapa kamu membuat keputusan untuk tetap bertunangan denganku?
                         Padahal,aku tahu hatimu telah mencintai Kak Zelfi.’ Tanya Nisa.
                        ‘Dengarkan aku,hati ini telah siap mencintaimu yang memang lebih pantas untukku,
                         Aku yakin ini adalah jawaban dari Allah atas do’aku selama ini.’ Jelasku.
                        ‘Insya Allah,aku turut senang mendengarnya.Tapi,apakah kamu sudah menemui
                         Kak Zelfi untuk meminta maaf dan juga meminta restunya?’. Tanya Nisa.
                        ‘Sejak kejadian itu berlalu, aku sudah tidak berhasrat lagi untuk menganggu hidupnya,
                         Sebab aku tak ingin melukai hatinya lagi. Bahkan, aku sudah tak pernah melihatnya
                         saat aku berkunjung ke rumahmu. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya? Mengapa
                         ia menghilang  tanpa jejak seperti ini?’. Tanyaku.
           
            Belum sempat Nisa menjelaskan, tiba-tiba handphonenya berdering sebab seseorang telah mengiriminya sebuah pesan singkat, entah apa isinya. Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sedih dan matanya pun nampak berkaca-kaca, aku pun memberikannya selembar tisu agar Nisa mengusap airmatanya. Setelah menutup kembali handphonenya Nisa membuang pandangannya keluar, ia seakan enggan menatapku. Selang beberapa saat kemudian, Nisa akhirnya kembali pada posisi duduk semula. Dia menjelaskan padaku bahwa Fira telah memutuskan untuk kembali ke Mesir setelah pertunanganku dengan Nisa nanti. Entah mengapa?aku ingin sekali menangis,sebab kehadiran Fira selama beberapa bulan ini telah membuatku percaya bahwa persahabatan itu tak bisa ditukar dengan apapun, termasuk ditukar dengan cinta. Sebenarnya, aku ingin kembali silahturahmi dengan Fira seerat persahabatan yang telah ku rajut dengannya selama  ini. Aku bertanya kemana sebenarnya Fira pergi dan tinggal sekarang?Nisa menjelaskan bahwa sejak kejadian di rumah sakit Fira memutuskan untuk tinggal di rumah pengasuhnya,yang berada tepat di belakng sekolah SMA ku dulu. Hatiku tersentak, ketika Nisa meminta untuk menemuinya dan membawanya pulang kembali ke rumah. Akhirnya, aku dan Nisa pun sampai di butik. Kami pun segera mencoba baju pertunangan yang telah selesai dirancang dan Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Setelah semuanya selesai, aku pun mengantarkan Nisa kembali ke rumahnya.

            Keesokkan harinya, aku memenuhi permintaan Nisa untuk menjemput Fira di rumah pengasuhnya. Selama dalam perjalanan, aku terus merenung apa yang akan terjadi jika Fira tahu bahwa aku berani menemuinya?. Beribu macam tanya berkelebat di hati dan otakku, tak terasa perjalanan begitu cepat rasanya, Alhamdulillah aku telah sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobil, aku pun berjalan menuju ke sebuah rumah yang sangat sederhana.
                        ‘Assalamu’alaikum.’ Sapaku.
                        ‘Wa’alaikumsalam.’(muncul seseorang paruh baya dari dalam rumah)
                        ‘Maaf mbok, saya ingin bertemu dengan Fira. Apakah dia ada?’ Tanyaku.
                        ‘Maaf, aden siapa?’ Tanya Mbok Minah.
                        ‘Saya Irsyad. Irsyad Al-Mubaraq. Saya sahabatnya Fira.’ Jelasku.
                        ‘Maaf aden, ada keperluan apa sehingga aden mencari Non Fira?’ Tanya Mbok Minah.
                        ‘Saya ke sini bermaksud untuk menjemput Fira pulang, sebab adiknya akan bertunangan,              adiknya ingin Fira pulang agar kebahagiaannya terasa lengkap dengan kehadiran Fira.
                        Dan saya adalah calon tunangan dari adiknya Fira,Mbok.’ Jelasku.
                        ‘Den, sungguh saya tak tahu.Maafkan Saya. Baiklah, Non Fira saat ini sedang
                         mengajar di sekolah gubuk di kampung nelayan yang ada di tepi pantai Parangtritis.
                         Aden bisa ke sana untuk menemuinya, hiburlah dia dan buatlah dia tersenyum lagi,
                         Sayangilah ia sebagai sahabatmu.’ Jelas Mbok Minah.
                        ‘Insya Allah,Mbok. Terima Kasih atas penjelasannya. Saya permisi dulu,Mbok.
                         Assalamu’alaikum.’ Pamitku pada Mbok Minah.
                        ‘Wa’alaikumsalam,Hati-hati di jalan yah,Den. Do’aku selalu menyertaimu.’ Ujar si Mbok.
                        ‘Amin,Insya Allah.’ Tanggapku.

            Setelah berpamitan, aku pun segera meluncur ke tempat tujuan. Selama dalam perjalanan, aku berfikir seperti apa reaksi Fira nanti? memikirkan hal ini membuatku semakin merasa bersalah padanya. Itulah sebabnya, sehingga aku bertekad untuk menemuinya sekalipun nanti aku diusirnya. Setelah menempuh perjalanan selama ± 20 menit, akhirnya  aku sampai di sekolah gubuk tersebut. Setibanya di sana, aku menyaksikan betapa mulianya hati seorang Zelfira Anastasya yang dengan sungguh-sungguh mencurahkan ilmu dan kasih sayangnya kepada anak-anak pesisir yang harus hidup dengan keadaan yang amat menyayat hati ketika melihatnya. Aku terduduk di atas sebuah beranda rumah seorang nelayan yang berada tepat di samping sekolah gubuk itu. 20 menit pun berlalu, saat anak-anak itu keluar dari kelas mereka pertanda bahwa jam pelajaran telah berakhir. Aku pun lantas berdiri untuk masuk ke dalam, belum sempat aku masuk ke dalam Fira telah menabrakku di depan pintu, ia begitu terkejut dengan kehadiranku dan kami pun saling beradu pandang. Aku memandang Fira dengan seksama meski sebenarnya aku sedang mengontrol degup jantungku yang begitu kuat menghantam di dada, aku tersentak saat Fira mundur beberap langkah dariku agar jaraknya denganku tetap terjaga dengan baik, sehingga aku pun dengan spontan memperbaiki jarak antara aku dan Fira.
                        ‘Assalamu’alaikum,Fira.’ Sapaku.
                        ‘Wa’alaikumsalam,Irsyad. Darimana kamu tahu aku berada di sini?’. Tanya Fira.
                        ‘Aku tadi datang ke rumah pengasuhmu, dia bilang bahwa kamu sedang mengajar di
                         sini. Makanya aku kemari untuk menemuimu.’ Jelasku.
                        ‘Alasan apa yang ada di benakmu sehingga kamu bertekad untuk menemuiku disini?
                         Bukankah pertunanganmu akan berlangsung 3 hari lagi?.’ Tanya Fira.
‘Aku ke sini sebagai sahabatmu, bukan sebagai orang yang mencintaimu ataupun sebagai tunangan dari adikmu. Aku melihat ada kesedihan di wajahmu, aku datang ke sini hanya untuk menghiburmu.’ Jelasku.
                        ‘Mengapa hal itu baru tersadarkan oleh dirimu? aku butuh dirimu bicara dan hadir di sisi
                         ku seperti ini sejak kepulanganku dari Kairo. Tapi, aku maklum,sebab di sisimu telah ber
                        sandar sosok wanita shalihah dan berprilaku baik yang tak lain adalah adik kandungku                  sendiri. Aku bahagia ketika kamu mencintainya namun aku terluka saat kamu melukai hatinya dengan cara yang amat sangat tajam dirimu mengiris hatinya sebab ternyata dirimu telah mencintaiku yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Di mana iman                  dan naluri cintamu? apakah ini bentuk pengkhianatanmu padaku dan juga Nisa? aku tak mengerti dengan semua ini.’ Ujar Nisa.
                        ‘Aku paham di mana letak khilafku, aku sadar telah menyakiti dirimu dan Nisa. Aku ingin
                         menebus setiap salah dan khilafku pada kalian. Aku harusnya bersyukur sebab di sisiku
                         telah hadir dua wanita yang berarti dalam hidupku, namun aku merusak anugerah itu
                         dengan cara yang begitu membuat kalian berdua terluka hatinya. Maafkan aku
                         setulus hatimu, izinkan aku untuk berikrar di hadapan Allah dan juga dirimu di sini,
                         izinkan pula aku menggengam tanganmu saat aku beikrar nanti.’ Jelasku. 
                        ‘Ikrar? apa maksudmu? tapi, baiklah kamu boleh menggenggam tanganku.’ Jawab Fira.
                        ‘(sambil menggenggam tangan Fira dan mengangkatnya) Bismillahirrahmanirrahim,
                        aku Irsyad Al-Mubaraq, Demi Allah aku mencintai, menjaga, dan melindungi satu wanita dalam hidupku,yakni Annisa Nur Azizah adik kandung dari sahabat yang paling ku kasihi dan ku sayangi yang bernama Zelfira Anastasya. Aku ingin mereka berdua tetap ada disisiku sesuai dengan aturan-Mu, aku ingin perempuan yang ada di sampingku ini tetap menjadi sosok sahabat yang ceria dan humoris seperti saat aku pertama kali mengenal dan menjadi sahabatnya.’ Seruku bersama hembusan angin laut dan deburan ombak.
                        ‘Subhannallah, Irsyad. Aku sangat  terharu dengan ikrarmu. Aku tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi,aku merindukan sosok dirimu yang seperti ini, kamu adalah sahabat yang sesungguhnya ditakdirkan Allah untukku. Aku merestuimu dengan Annisa, aku akan pulang bersamamu ke rumahku.’ Seru Fira.

            Setelah pamit dengan masyarakat setempat, aku dan Fira segera menuju ke rumah Mbok Minah pengasuh Fira untuk mengemasi barang-barangnya. Sesampainya di sana, Fira terlihat amat sangat ceria dan bahagia. Melihat suasana itu, Mbok Minah pun juga turut gembira. Selesai berkemas-kemas, aku dan Fira langsung pamit pada Mbok Minah, Fira mencium punggung tangan Mbok Minah lalu aku mengikutinya, saat aku mencium tangannya Mbok Minah membisik sebuah kalimat yang berbunyi ‘Aden telah memilih jalan yang benar, persahabatan telah menghapus duka dan airmata Fira, ia telah mencintai Firdaus dan tetap akan mencintainya sampai kapanpun.’ Aku memahami dan menyimpan kata-kata Mbok Minah itu di hatiku. Aku dan Fira menuju ke mobil, dan Mbok Minah membuntuti kami sampai di pintu pagar, kami pun mengucapkan salam lalu segera meluncur ke kediaman Fira. Aku berhasil memenuhi permintaan Nisa dan aku pun tak sabar untuk segera sampai di rumah untuk melihat reaksi dari wanita yang akan bertunangan denganku dalam waktu 3 hari lagi.

            Aku bahagia melihat kembalinya sosok sahabat yang aku rindukan, dia telah berada di sisiku. Sepanjang perjalanan, Fira terus menceritakan kehidupan di Negeri Piramid selama 7 tahun lamanya. Aku bangga sebab aku telah merajut kembali persahabatan itu dengan Fira. 45 menit telah berlalu, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Aku pun segera memarkirkan mobil di garasi, belum lagi mobil sepenuhnya berhenti Fira telah loncat dan berlari ke dalam rumah, aku merasa geli melihatnya tapi aku memahami itu sebab aku tahu bahwa dulu semasa SMA Fira adalah pemegang sabuk hitam di ekskul karate di sekolah. Aku pun segera menyusulnya,dan begitu aku sampai di dalam rumah keharuan telah menyelimuti suasana di rumah itu. Aku melihat betapa rindunya Nisa pada Fira, begitupun sebaliknya. Aku melangkah menuju ke ruang keluarga di mana keharuan itu terjadi, aku terkejut ketika abi Nisa memelukku dengan begitu eratnya, tak terasa airmata ini mengalir aku menangis bukan karena aku sedih namun aku sangat bahagia sebab aku mampu mempertemukan kembali Nisa dan Fira setelah 3 minggu berpisah, selain itu juga aku bisa memenuhi permintaan Annisa wanita yang karena Allah aku mencintainya. Segala Puji dan Syukur hanya milik-Mu, Ya Rabb.Aku bersyukur dalam hati.

            Hari pertunangan pun tiba, entah mengapa aku begitu grogi dan amat sangat gugup. Saat aku mengenakan pakaian pertunangan aku serasa ingin menitikkan airmata. Aku terkejut ketika ummi mengetuk pintu kamarku, aku segera membukanya dengan sigap.Ummi masih termenung menatapku sepertinya beliau ingin melihat aku yang telah mengenakan pakaian yang sangat bersahaja tersebut. Setelah puas, ummi pun berlalu. Namun, sebelum beliau pergi, ummi memberikan aku sepucuk surat yang tak terdapat nama pengirimnya. Aku pun segera menutup kembali pintu kamar dan terduduk di tepi tempat tidurku. Belum lagi aku sempat membaca surat tersebut, abi menjemputku dari kamar dan segera menuju ke mobil, dan rombongan keluarga besarku pun berangkat menuju kediaman Nisa. Aku duduk di sisi ummi di bangku bagian belakang sedangkan abi duduk di bangku depan bersama Bang Yusuf supir pribadi keluargaku.
           
            Selama dalam perjalanan, rasa gugup itu tetap saja menyelimuti hati ini. Ummi sepertinya memahami keadaanku, beliau lalu segera mengenggam jemariku sembari mengucapkan sebait do’a yang Subhannallah mampu membuat hati ini tenang dan damai. Aku teringat pada surat yang belum sempat kubaca, aku pun segera meraihnya dari saku bajuku lalu membacanya.

                        Assalamu’alaikum.wr.wb.
            Teruntuk sahabatku, Irsyad Al-Mubaraq
            Aku percaya cintamu pada wanita shalihah itu telah begitu tajam menghunjam di hatimu, dia telah mampu menyentuhmu dengan segala kelembutannya. Aku pun percaya bahwa cinta kalian telah tumbuh atas ridho-Nya. Aku pun tahu bahwa hari ini kamu begitu gugup sebab kamu akan melamarnya dalam ikatan pertunangan, berdzikirlah dengan setulus hatimu agar rasa gugup itu segera berlalu dari hatimu. Semoga Allah akan menjaga cintamu kepada Nisa dan cinta Nisa terhadapmu. Aku selalu bahagia jika dirimu bahagia, jaga Nisa dengan sepenuh hati. Wassalamu’alaikum… Sahabatmu Zelfira Anastasya.

Begitulah isi dari surat yang kini ada dalam genggamanku. Aku tersenyum kecil, Fira itu benar-benar sosok sahabat yang dianugerahkan Allah padaku. Dia begitu memahami kondisiku daripada aku sendiri. Ummi menatapku, sambil berkata ‘Kamu beruntung bisa memiliki keduanya, dua wanita shalihah yang memiliki keunikan tersendiri, kedua wanita yang sama-sama namanya terukir indah di relung kalbumu.’
Aku terkagum-kagum mendengar kata demi kata yang meluncur dari mulut ummi, ummi pun mencium keningku. Hati ini begitu damai dalam pelukan ummi yang begitu ku cintai ini.

            Waktu telah menunjukkan pukul 7.00 WIB, begitu Bang Yusuf memarkirkan mobil di pekarangan rumah Nisa. Pekarangan rumah itu telah dipenuhi mobil para undangan yang telah berkenan hadir di acara pertunanganku dengan Nisa. Sesampainya di depan pintu rumah, aku disambut dengan pelukan abi Nisa, bukan hanya dipeluk bahkan keningku pun dicium oleh beliau. Lenganku digamit oleh abi dan abi Nisa sementara ummi dan ummi Nisa mengiringi kami dari belakang. Aku berhenti di atas altar untuk menunggu Nisa yang masih berada di kamarnya. Gelisah, gugup, bahagia dan terharu itulah perasaan yang berkecamuk dalam hatiku. 10 menit berlalu, akhirnya calon tunanganku pun sudah terlihat menuruni tangga. Jantungku berdegup begitu kencang, lebih kencang dari suara rebana yang sedang ditabuh. Bagaimana tidak? hari ini Nisa tampil begitu anggun dan mempesona dengan gaun muslimah berwarna coklat tua sangat kontras dengan kulitnya yang putih, sungguh dia begitu cantik. Ia didampingi oleh sang kakak tercinta yang tak lain adalah sahabatku sendiri, Fira. Langkah mereka seperti sengaja diperlambat, padahal di altar sini, aku begitu gugup dan canggung. Sesaat kemudian,Nisa telah berdiri di hadapanku dan siap menaiki altar untuk berdiri disampingku, Fira tersenyum kecil padaku sepertinya ia paham dengan kondisi di dalam hati ini. Acara pertunangan pun dimulai, jariku disematkan cincin oleh abi Nisa sedangkan cincin Nisa disematkan oleh ummiku, seluruh tamu mengucapkan hamdalah sambil bertepuk tangan. Hari ini resmi sudah ku melamar Nisa menjadi calon istriku dalam ikatan pertunangan yang Insya Allah diberkahi oleh rahmat suci dari Allah swt.

            2 hari setelah pertunanganku dengan Nisa, dibuatlah acara syukuran di rumahku. Acara tersebut dibuat sebagai bentuk rasa syukur pada Allah yang telah mempermudah segala persiapan dari acara pertunanganku, sekaligus untuk menentukan tanggal pernikahanku dengan Nisa. Seluruh keluarga besar aku dan Nisa hadir dalam acara ini. Nisa datang bersama dengan abi dan umminya dan juga Fira. Acara syukuran pun dimulai, dan dilanjutkan dengan penentuan tanggal pernikahan. Setelah bermusyawarah, abiku menentukan pernikahanku akan dilaksanakan di akhir tahun ini, sesudah aku dan Nisa meraih gelar sarjana muda yang berarti masih sekitar 8 bulan ke depan. Aku dan Nisa pun setuju dengan penentuan tersebut. Setelah semuanya selesai, jamuan makan malam pun dimulai. Aku duduk sendiri di teras sambil termenung, dan ternyata tanpa ku sadari Fira telah berdiri di sampingku.
                        ‘Assalamu’alaikum. Irsyad.’ Sapa Fira.
                        ‘Wa’alaikumsalam.Fira.’ Jawabku singkat.
                        ‘Aku melihat kekhawatiran di wajahmu. Ada yang ingin diceritakan padaku?
                         Dengan senang hati aku siap mendengarnya.’ Kata Fira.
                        ‘Aku bahagia dengan semuanya. Tapi, aku mengkhawatirkan Nisa. Belakangan ini dia
                         terlihat begitu pucat dan lemas. Ada apa dengan dia?’ Tanyaku.
                        ‘Subhanallah, cintamu pada adikku mampu membuatmu merasakan itu. Tapi, aku
                         tak bisa ceritakan rahasia ini padamu.’ Jawab Fira.
                        ‘Aku ini telah menjadi bagian dari hidupnya, dan aku juga sahabatmu. Apakah itu tak
                         cukup bagiku untuk mengetahui rahasia tentang Annisa?’ Tanyaku.
                        ‘Tak ada sedikit pun cela dalam dirimu untuk mengetahui semua tentang Nisa. Tapi,
                         aku tak ingin rahasia ini membuat kamu tak bisa menerima Nisa sepenuhnya. Aku
                         tak ingin kamu terpukul dengan semua ini.’ Kata Fira.
                        ‘Haruskah aku berlutut di hadapanmu, agar kamu mau jujur padaku? aku ini mencintai
                        Nisa karena Allah. Jadi, apapun keadaan yang ada pada Nisa akan ku terima dengan ikhlas dan Insya Allah tak ada alasan bagiku untuk berhenti mencintainya. Dan siap untuk mendengarnya.’ Jelasku.
                        ‘Baiklah. Sebenarnya semenjak Nisa lahir, ia memiliki kelainan pada hatinya. Awalnya,
ia divonis oleh dokter bahwa ia hanya dapat bertahan sampai berusia 15 tahun. Namun, Allah berkehendak lain. Subhanallah,Nisa bertahan sampai hari ini. Aku terharu ketika ia bertemu denganmu, ia bisa bahagia dengan mencintaimu. Aku mohon jagalah Nisa dan tetap cintai dia dengan sepenuh hatimu.’ Jelas Fira dengan sedikit terisak.
                        ‘Astagfirullah, haruskah Nisa yang merasakan itu?. Hapus airmatamu, Nisa itu wanita
                         yang tegar, dan aku tak akan sedikit pun berhenti untuk mencintainya. Ia tetap akan
                         aku cintai sepenuh hati dan aku juga akan selalu menjaganya.’ Jawabku.
                        ‘Alhamdulillah, akan ku pegang janjimu dan aku juga lega mendengarnya. Aku juga ingin pamit denganmu,sebab esok aku harus kembali ke Mesir untuk melanjutkan S2 di sana.               Aku titipkan Nisa padamu.’ Kata Fira.
                        ‘Insya Allah, akan ku jalankan amanahmu dengan sebaik-baiknya. Jaga dirimu juga di
                         sana, jangan lupa tetap jaga komunikasimu denganku.’ Tanggapku.

            Acara syukuran pun selesai, Nisa dan keluarganya pamit untuk kembali ke kediaman mereka. Setelah para undangan pulang, aku pun segera pamit untuk istirahat pada abi dan ummi. Namun, tak lupa aku menunaikan sholat Isya terlebih dahulu, ketika aku baru saja selesai sholat handphoneku bordering dan ternyata Nisa mengirimkan pesan padaku yang isinya adalah ia mengingatkanku agar tidak lupa sholat Isya dan ia mengajakku untuk mengantar Fira ke bandara besok ba’da Subuh. Aku pun membalasnya, bahwa aku berkenan untuk mengantar Fira, dan tak lupa aku ucapkan selamat tidur padanya.  Aku tersentuh dengan Nisa, ia mampu bertahan dan bergelut dengan penyakitnya. Buatku Nisa adalah sosok yang berbeda dengan siapapun, dialah wanita yang memang pantas untuk aku cintai dan aku sayangi dengan sepenuh hati ini. Aku pun terlelap dalam buaian mimpi malam yang panjang.

            Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang, ku hirup nafas ini sedalam mungkin agar ku bisa merasakan ketenangan hidup dan jiwa. Segera ku tunaikan sholat subuh, setelah itu aku pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah Nisa sebab hari ini sahabat yang paling aku kasihi akan pergi kembali ke Mesir,untuk melanjutkan studi sekaligus menetap di sana. Aku pamit pada abi dan ummi, lalu aku berlalu dengan mobil pribadiku. 15 menit kemudian, aku telah sampai di rumah Nisa. Dan, rupanya mereka semua telah siap untuk menuju ke bandara. Entah mengapa, hati ini ingin menangis sebab kini untuk kedua kalinya aku harus berpisah dengan Fira, wanita yang telah mengisi sebagian hidupku.

            Kami pun segera menuju ke bandara, kami tak ingin Fira terlambat. Aku, Nisa, dan Fira menaiki mobilku, sedangkan abi dan ummi Nisa naik mobil pribadi mereka. Sepanjang perjalanan, Fira tak henti-hentinya menggoda aku dan Nisa yang duduk berdampingan denganku di jok depan. Aku sempat melihat rona merah di pipi Nisa. Tapi, sesaat kemudian kami bertiga termenung dalam lamunan masing-masing, hingga Nisa membuka sebuah pembicaraan yang sangat serius.
                        ‘Kak Zelfi, bolehkah aku bertanya padamu?’ Kata Nisa.
                        ‘Tentu saja sayang, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?’ Jawab Fira.
                        ‘Menurutmu,apakah aku pantas bersanding dengan sahabatmu ini?’ Tanya Nisa.
Aku tersentak, mendengar apa yang ditanyakan Nisa pada Fira, dan aku juga mendengar Fira menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari sang adik tercinta.
                        ‘  Aku rasa jawabannya ada di hatimu, dia mencintaimu, Nisa. Aku bisa merasakan betap ia selalu menjagamu, selalu bisa membuatmu tersenyum, dan ia juga membutuhkan kehadiranmu dalam setiap bagian hidupnya.’ Ujar Nisa.
                        ‘Insya Allah, aku bisa pahami hatinya. Terima kasih atas penjelasannya. Tapi, jika aku
                         telah menemukan kebahagiaan itu. Mengapa dirimu belum juga menemukannya?
                        Apakah cinta kakak pada Kak Firdaus tak bisa tergantikan?’ Tanya Nisa
                        ‘Aku telah menemukan kebahagiaan itu jauh sebelum dirimu merasakannya. Aku telah
bahagia dengan menjaga sebuah cinta itu di hatiku.Walau raganya telah pergi, tapi aku tetap percaya ia akan menjagaku, seperti Irsyad menjagamu.’
Hatiku bergetar ketika mendengar ucapan dari Fira. Ia begitu setia dengan cinta Firdaus di hatinya, sehingga ia tak berkenan sedikitpun untuk menempatkan seseorang di hatinya. Aku kagum dengan sahabatku, dia begitu teguh menjaga hatinya.

            Tak terasa perjalanan menuju bandara begitu cepat, aku pun memarkir mobil dengan sempurna. Kami bertiga turun diikuti oleh abi dan ummi Nisa. Fira pun segera menuju ke loket untuk melapor dan mengambil nomor kursi pada petugas loket. 10 menit kemudian, panggilan untuk para penumpang tujuan Mesir menggema di udara, Fira pun segera bersiap-siap untuk memasuki ruang tunggu. Suasana haru mulai mencekam di antara kami, abi dan ummi memeluk anak sulung mereka itu sambil menitikkan airmata, Nisa juga tak kuasa membendung airmatanya ia benar-benar menangis dalam pelukan kakaknya. Ketika Fira berhadapan denganku, aku ingin sekali memeluknya dengan pelukan seorang sahabat tapi itu urung ku lakukan sebab aku sadar bahwa itu tak lazim untukku lakukan pada wanita yang bukan muhrimku. Fira memberikan sebuah tonjokan kecil di bahuku, ia tersenyum saat menatapku. Aku membalas senyumnya walau sesungguhnya hati ini bersedih sebab untuk yang kesekian kalinya aku harus melepas Fira dengan setulus hatiku. Setelah pamit, Fira segera menuju ke ruang tunggu dan tak lama kemudian Fira menuju ke pesawat yang akan membawanya ke negeri Piramid. Dalam  hatiku bergumam ‘aku akan menjaga satu cinta dalam hidupku seteguh dirimu menjaga dia di hatimu dan akan ku lindungi ia seperti kamu melindunginya.’ Tak lama kemudian, aku mendengar deru mesin pesawat telah berbunyi pertanda akan segera berangkat, Fira sejauh apapun dirimu pergi aku tetap akan menantimu untuk menemaniku dengan kasih sayangmu sebagai sahabat, dan aku pun juga akan selalu merindukanmu. Nisa menggenggam erat ujung kemejaku, aku bisa merasakan getar jiwanya yang begitu sedih dan begitu kecewa dengan kepergian Fira, tapi ia mencoba untuk menerima kenyataan ini dengan keikhlasan dan senyuman sebab ia paham Fira akan kembali lagi untuk selalu ada di sampingnya.

            Kami pun beranjak pulang, sepanjang perjalanan Nisa hanya diam seribu bahasa. Dia nampak enggan bicara padaku, aku pun bisa memahami seperti apa rasanya ditinggal oleh orang yang berarti dalam hidup kita, apalagi orang itu adalah Fira. Nisa memang pantas bila ia bersedih, dan aku akan berusaha untuk menghiburnya seperti pesan Fira padaku beberapa hari yang lalu.

            Tak terasa sudah hampir 3 bulan Fira meninggalkan Indonesia. Tapi, Nisa masih saja bersedih meski aku telah menghiburnya dengan apa yang ku bisa. Hingga pada akhirnya Nisa harus dirawat di rumah sakit, sebab kondisinya yang makin lemah. Sudah hampir 2 minggu Nisa dirawat, namun dokter belum juga memberikan instruksi apapun tentang penyakit yang diderita oleh Nisa. Hari ini aku bertugas untuk menemaninya,sedangkan abi dan ummiya sudah kembali ke rumah tepat setelah ba’da subuh. Tiba-tiba,dokter masuk ke ruangan tersebut untuk mengecek keadaan Nisa.
                        ‘Maaf anda ada hubungan apa dengan pasien?’ Tanya dokter.
                        ‘Dia adalah tunangan saya, Dok. Bagaimana keadaannya?’ Ujarku.
                        ‘Saya tak bisa menjelaskannya pada Anda. Saya harus bertemu langsung dengan
                         kedua orang tuanya terlebih dahulu.’ Tanggap sang dokter
                        ‘Baiklah, saya akan segera menghubungi mereka untuk menemui dokter.’ Kataku.
                        ‘Lakukan secepatnya, sebab hal ini sangat penting.’ Ujar dokter sambil berlalu.
Begitu sang dokter berlalu, aku pun segera menghubungi abi Nisa. Abi berkata Insya Allah 15 menit lagi abi dan ummi telah berada di rumah sakit. Tak lama kemudian, abi dan ummi sampai juga di rumah sakit. Sesaat kemudan, abi segera menuju ke ruangan dokter Fajri,hampir 2  jam abi dan dokter Fajri terlibat pembicaraan yang cukup serius. Sementara itu,aku dan ummi menunggu di luar dengan perasaan was-was dan akhirnya abi pun keluar dengan mimik wajah yang tak bisa ditebak apa yang sesungguhnya terjadi di dalam ruangan Dokter Fajri.

                        ‘Abi,ada apa dengan Nisa?tolong  jelaskan pada ummi.’ Ujar Ummi.
                        ‘Abi bingung  apa yang harus dijelaskan, sebab abi tak ingin melihat ummi dan Irsyad
                         bersedih, karena abi sendiri pun tak sanggup untuk menyampaikannya.’ Jelas Abi.
                        ‘Aku dan ummi memliki hak untuk tahu semuanya, sebab kami pun adalah orang yang
                         menyayangi Nisa.’ Kataku.
                        ‘Baiklah, tadi Dokter Fajri mengatakan bahwa Nisa harus segera mendapatkan donor
                         hati yang cocok sebab hati Nisa semakin terserang virus mematikan hingga hati Nisa
                         semakin membusuk dan tak dapat berfungsi dengan baik lagi.’ Jelas abi.
                        ‘Innalillahi, abi lalu apa yang harus kita lakukan?’ Tanyaku.
‘Abi juga belum tahu, Irsyad. Tapi,tadi Dokter Fajri menyarankan agar abi membawa Nisa berobat ke Mesir. Bagaimana pendapat ummi?’ Tanya abi.
                        ‘Ummi setuju, jika itu yang terbaik untuk Nisa. Segeralah lakukan persiapan untuk
                         semuanya.’ Kata Ummi.

            Berdasarkan keputusan yang telah dibuat,akhirnya abi dan ummi Nisa segera melakukan persiapan untuk keberangakatan kami ke Mesir. Fira pun telah mengetahui rencana tersebut, sehingga ia menghubungi pihak rumah sakit yang akan merawat Nisa selama akan berada di sana. Jujur, aku tak kuasa saat ku harus menatap wajah Nisa. Hati ini terpukul, kecewa, dan bersedih sebab wanita yang telah menyentuh hati dan jiwaku itu tengah bergelut dengan penyakit mematikan yang dapat dengan mudah merenggut nyawanya. Tapi, aku coba berusaha untuk tegar dan kuat, sebab mungkin Allah punya rencana di balik ini semua. Ya Rabb, sembuhkanlah Nisa jika itu adalah kehendak-Mu, ringankanlah penyakit yang ada dalam tubuhnya dengan segala Kuasa-Mu.

            Setelah semuanya telah siap, abi pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Fajri guna mengambil surat rujukan yang dibuat. Kami berangkat dengan disertai oleh rombongan medis menuju ke Mesir, Nisa yang telah sadar dari komanya beberapa hari yang lalu duduk didampingi oleh kedua orang tuanya, begitu juga denganku. Saat hampir  8 jam lebih menempuh perjalanan udara, kami dan rombongan pun tiba dengan selamat di Mesir. Begitu pesawat mendarat,kami langsung di jemput oleh pihak medis dari rumah sakit Al-Maedda dan Nisa langsung dilarikan ke rumah sakit sebab kondisinya sangat menurun, sedangkan kami semuanya membuntutinya dengan mobil pribadi milik Fira.

            Tak lama kemudian, kami semua tiba di rumah sakit Al-Maedda. Nisa segera dilarikan ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD), dan para dokter pun segera menanganinya. Aku dan semuanya menunggu di luar, dengan perasaan was-was aku panjatkan do’a pada Allah swt. Abi Nisa memelukku, sementara Fira ia menghilang entah kemana? kami semua tak ada yang mengetahui hal itu. Dokter Yaqub segera keluar dari UGD, dia meminta kami untuk memanjatkan do’a agar Nosa mampu melewati masa kritisnya. Aku memejamkan mata, hatiku remuk tak kuasa membendung airmataku, aku runtuh terduduk seluruh badan ini serasa lemas tak berdaya. Ya Illahi, aku pasrahkan semuanya pada-Mu, aku hanya ingin yang terbaik baginya, izinkan aku untuk tetap mencintainya dengan hati ini. Abi Nisa merangkul dan memapahku menuju ke mushola yang berada di ujung koridor di lantai 4 rumah sakit tersebut.
           
            Aku menunaikan sholat Ashar sekaligus menjamak takhir sholat zuhurku, dalam sujud terakhir aku memanjatkan do’a kepada Sang Penyembuh segala macam penyakit agar Nisa diberi kekuatan untuk bertahan melawan segala penyakitnya. Setelah selesai, aku kembali untuk menunggui Nisa. Tapi, abi menyuruhku untuk kembali ke hotel agar beristirahat sebab beliau tak ingin kesehatanku terganggu hanya karena aku kurang istirahat. Aku turuti perintah abi, aku menuju ke hotel dengan didampingi oleh Bang Yusuf supir pribadi keluargaku yang turut serta ikut ke Mesir. Sepanjang perjalanan, aku hanya termenung sebab kini Nisa sedang bergelut untuk melawan rasa sakitnya.

            Sekitar pukul 17.45 waktu Mesir, aku masuk ke dalam kamar hotel. Lalu, aku mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Maghrib yang sesaat lagi akan segera tiba waktunya. Tak terasa adzan Maghrib pun berkumandang, begitu syaahdu aku mendengarnya sehingga aku menitikkan airmata sebab hati ini masih terus mengingat Nisa, aku sangat memahami kondisinya. Tiba-tiba baru saja aku selesai menunaikan sholat Maghrib, handphoneku berdering pertanda sebuah pesan singkat masuk. Aku dengan sigap membukanya, takut jikalau itu kabar penting dari rumah sakit. Namun, ternyata pesan singkat tersebut berasal dari Fira yang berisi agar aku segera menemuinya di taman kota yang berada di tepian sungai Nil. Ada apalagi? tanyaku dalam hati.
           
            Setelah aku menunaikan sholat Isya, aku segera meluncur ke tempat yang telah ditunjukkan oleh Fira untuk bertemu denganku. Sebenarnya, apa yang ingin dibicarakan oleh Fira padaku?. Aku terus menelusuri tepian sungai Nil yang airnya bercahaya disebabkan oleh siraman cahaya lampu yang berada di sekitarnya. Akhirnya, aku menemukan sosok perempuan yang sedang berdiri termenung menghadap ke sungai Nil, hatiku berkata itu adalah Fira. Malam itu, aku memang sangat sulit untuk mengenali Fira sebab Fira mengenakan busana muslimah yang merupakan busana khas wanita Mesir.

                        ‘Assalamu’alaikum.’ Sapaku.
                        ‘Wa’alaikusalam.’ Jawab Fira singkat.
                        ‘Mengapa kamu mengajakku untuk bertemu di sini? dan kenapa aku sama sekali tak
                         melihatmu saat di rumah sakit tadi?’ Tanyaku.
                        ‘Aku juga manusia, bagaimana bisa aku melihat adikku menderita? hatiku juga hancur,
                         jiwaku pun luluh bahkan melebihi apa yang dirimu rasakan. Aku tak ingin kehadiranku
                         justru membuat Nisa semakin terpuruk.’ Jelas Fira.
                        ‘Aku tak merasa demikian, justru kehadiranmu akan membuatnya semakin kuat untuk
                         melawan setiap rasa sakitnya. Aku yakin Nisa membutuhkan semangat darimu, dia
                         menyayangimu seperti kamu menyayanginya.’ Tanggapku.
                                       ‘Aku hanya ingin mengatakan suatu hal padamu, maukah kamu mendengarnya? aku ingin                kamu memahaminya dengan  hatimu.’ Ujar Fira.                  
‘Baiklah, katakan saja. Aku berkenan untuk mendengarnya.’ Kataku.
‘Bismillah. Aku akan mengembalikan senyuman itu padamu. Aku berjanji dengan  sepenuh  hatiku. Aku akan kembalikan dia padamu. Maaf aku harus pergi. Jagalah Nisa.  Aku  permisi. Assalamu’alaikum.’ Ucap Fira.
           
            Belum sempat aku menjawab salam dari Fira, ia sudah pergi meninggalkanku dengan seribu pertanyaaan di hatiku. Ia begitu misterius, sepertinya ada hal yang disembunyikannya dariku. Entahlah. Aku tak bisa sedikitpun memahami kata-kata yang tadi diucapkannya. Aku pun segera menuju ke rumah sakit, sebab aku ingin melihat sejauh apa perkembangan kondisi  kesehatan Nisa. 20 menit lebih, aku telah sampai di rumah sakit. Ternyata, tim dokter tengah mempersiapkan operasi untuk Nisa tunanganku. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas segala anugerah-Nya, tapi tunggu dulu siapa manusia yang telah memiliki hati mulia sehingga ia rela untuk memberikan organ tubuhnya pada Nisa tanpa imbalan sepeser pun? Aku pun segera menanyakan hal ini pada ummi, menurut beliau orang tersebut adalah wanita Mesir yang mengaku bahwa ia adalah teman baik Nisa di jejaring sosial yang ingin menolong Nisa sebab Nisa pun pernah membantunya dalam menyelesaikan suatu masalah, dia bernama Ruqayyah Al-Maisaroh. Tim dokter telah menentukan kapan operasi akan segera dilakukan, tepatnya 4 hari lagi sebab kondisi Nisa kini telah kian membaik namun ia masih sedikit lemah. Tapi,mengapa sampai sekarang Fira belum juga menunjukkan batang hidungnya hingga adiknya kini akan segera dioperasi. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan sahabatku itu?.

            3 hari menjelang operasi, kondisi Nisa kembali menurun sebab ia tak mau makan meski ummi dan abinya telah membujuknya. Para perawat pun sudah dengan sabar merayunya agar ia mau makan walau hanya sesuap saja. Abi Nisa meneleponku, saat aku baru saja selesai membaca Al-Qur’an. Beliau memintaku untuk ke rumah sakit agar aku berkenan untuk membujuk Nisa supaya ia mau makan. Tak berapa lama kemudian, aku pun tiba di rumah sakit segera ku menuju ke kamar perawatan dimana tempat Nisa berada saat ini.
                        ‘Assalamu’alaikum.’ Ucapku.
                        ‘Wa’alaikumsalam.’ Jawab Nisa, abi, dan ummi.
                        ‘Maaf, jika aku terlambat. Aku kemari untuk memenuhi panggilan abi yang tadi
                         meneleponku.’ Ujarku.
                        ‘Baiklah, Nak. Abi dan ummi keluar dulu. Bujuklah, agar ia mau makan .’ Kata Abi.
Setelah abi dan ummi keluar, dengan perlahan ku dekati Nisa yang sedang termenung di atas tempat tidurnya. Aku mencoba untuk kuat dan tersenyum pada kekasih hatiku itu, dia pun membalasnya. Semakin ku mendekat, jantung ini semakin tak karuan hingga membuat nafas ini serasa seperti berhenti. Aku mencoba untuk mengajaknya bicara.
                        ‘Bagaimana keadaanmu, Nisa?.’ Tanyaku.
                        ‘Alhamdulillah, aku baik. Tapi, hari ini aku sedang tak ingin makan sebab aku bosan
                         dengan lauk pauknya ditambah lagi aku ingin makan jika Kak Zelfi yang menyuapiku.
                         Tapi, aku heran dan sedih ketika ku tahu bahwa selama aku di rawat di sini Kak Zelfi
                         tak pernah menunjukkkan batang hidungnya. Benarkah begitu?’ Kata Nisa.
                        ‘Aku rasa tidak, Fira itu selalu menjengukmu dengan do’a yang selalu dipanjatkannya.
                         Aku juga yakin bahwa ia pun merindukanmu sebagaimana kamu merindukannya.
                         Ia juga akan sedih ketika ia tahu bahwa adik tersayangnya tak mau makan. Makanlah,
                         Aku akan menghubunginya agar ia mau berkenan menjengukmu di sini. Aku tak ingin
                         lagi melihat wanita yang aku cintai harus terbaring lemah.’ Jelasku.
                        ‘Tapi, tak seharusnya ia berbuat seperti ini. Apa mungkin ia cemburu padaku sebab
                         ia merasa kamu lebih memperhatikanku daripada dirinya?’ Tanya Nisa.
‘Aku tahu, seperti apa Fira menjaga hati dan cintanya. Jadi, tak akan ada sebersit pun alasan baginya untuk cemburu  padamu. Lebih baik sekarang kamu makan dulu sebab itu             sangat berguna untuk kesehatanmu.’ Pintaku.

            Akhirnya setelah dibujuk, Nisa pun mau makan. Aku dengan sabar menyuapinya sambil bercerita tentang sosok wanita yang bernama Ruqayyah Al-Maisaroh. Nisa sangat terkejut dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Ruqayyah, justru aku lebih terkejut lagi ketika Nisa berkata bahwa dirinya sama sekali tak mengenal sosok Ruqayyah yang mengaku sebagai teman baik Nisa. Lalu, siapakah sosok Ruqayyah tersebut? dan mengapa ia begitu mulia mengorbankan  organ tubuhnya pada Nisa?. Entahlah, aku sendiri pun tak mampu untuk memahami itu. Tapi, dalam hati ini aku telah bertekad untuk menemui Ruqayyah maka dari itu aku segera pergi ketika Nisa telah tertidur lelap dan kedua orang tuanya telah datang untuk menemaninya.

            Aku segera pergi menuju ke bagian administrasi rumah sakit, guna mencari data dari Ruqayyah. Seorang perawat pun mencarikannya untukku. Ia memberitahukanku tentang semua identitas dari Ruqayyah. Setelah semuanya lengkap, aku segera  menuju ke alamat yang diberikan oleh perawat tadi. Hampir 1 jam aku menempuh perjalanan, akhirnya aku berhasil menemukan rumah Ruqayyah.

                        ‘Assalamu’alaikum.’ Kataku.
                        ‘Wa’alaikumsalam warahmatullah.’ Jawab seorang wanita.
                        ‘Maaf, kalau saya mengganggu. Saya Irsyad Al-Mubaraq.’ Jelasku.
                        ‘Aku Ruqayyah. Maaf, apakah saya mengenalmu?’ Tanya wanita bercadar itu.
                        ‘Aku adalah tunangan dari Annisa. Anda perempuan Mesir tapi begitu fasih berbahasa
                         Indonesia. Apakah anda juga berketurunan Indonesia?’ Tanyaku.
‘Anda benar, nenek buyut saya asli dari Indonesia. Lalu, ada keperluan apa sehingga anda  menemuiku?’ Tanya Aya.
                        ‘Aku hanya ingin mengenalmu sebab Nisa bilang bahwa ia sama sekali tak mengenalmu.
                         Dan, aku ingin tahu ada apa sehingga kamu begitu mulia berkenan untuk mendonorkan
                         hatimu untuk tunanganku?’ Tanyaku.
                        ‘Apakah aku salah membantu saudaraku sesama muslim? sedangkan secara medis hati
                        ini cocok untuk didonorkan pada Nisa. Aku akan mengembalikan senyuman itu padamu,
                        dan selalu bahagia dengan bahagiamu.’ Jelas Aya.
                        ‘Maaf, jika aku sudah bersu’uzan padamu. Sebelumnya, terima kasih untuk semuanya.
                         Aku permisi. Assalamu’alaikum.’ Kataku.
                        ‘Wa’alaikumsalam warahmatullah.’ Jawab Aya.

            Aku pun segera berlalu dari rumah Aya. Hati ini telah lega mendengar semua penjelasan Aya, tapi tunggu sebentar ada kejanggalan dari ucapan Aya tadi. Aku berusaha untuk mengingatnya lagi, dan aku pun berhasil untuk mengetahui kejanggalan tersebut yaitu kalimat terakhir yang diucapkan oleh Aya sama persis dengan apa yang diucapkan oleh Fira kedua sama-sama berkata ‘Aku akan mengembalikan senyuman itu padamu.’ Kelegaan yang tadi aku rasakan hilang dengan sekejap sebab aku mulai merasakan ketidaknyamanan dalam hati ini. Aku kembali ke hotel guna menenangkan hati agar tak terlalu terbayang-bayangi dengan hal yang belum tentu akan terjadi. Sebagian bathinku bilang mungkin saja omongan itu hanya sebuah kebetulan. Mudah-mudahan saja begitu.
                       
            Aku baru saja menutup pintu kamar hotel, ketika seseorang meneleponku. Aku segera mengangkatnya, telepon tersebut dari Fira yang mengatakan bahwa ia akan menjenguk Nisa malam ini sebab hari-hari kemarin itu ia sedang mengadakan seminar di luar Kota Kairo selama hampir 3 hari. Aku bersyukur dalam hati, ternyata ucapan itu hanya sekedar kebetulan. Fira memintaku untuk menjemputnya di stasiun kereta yang berada di pusat kota. Setelah aku selesai mandi dan sholat, aku pun segera meluncur ke stasiun yang tadi disebutkan oleh Fira. Sesampainya di sana, ternyata Fira baru saja tiba. Aku langsung menyambutnya, dan segera menuju ke rumah sakit agar Fira dapat segera bertemu dengan sang adik tercinta.

            Selama aku bertunangan dengan Nisa, baru kali ini Fira dan aku duduk berdampingan di jok depan. Ada getar-getar kecil dalam hatiku, ketika aku memandang wajahnya yang teduh. Fira bercerita tentang perjalanannya selama 3 hari kemarin, Fira pergi setelah aku dengannya bertemu di taman Sungai Nil. Tapi, aku sedikit bisa menangkap raut kesedihan di balik senyumannya. Tak lama kemudian, aku dan Fira sampai juga di rumah sakit. Aku segera memarkirkan mobil dengan baik, lalu kami berjalan beriringan menuju ke ruang perawatan. Sesampainya di sana, Fira langsung menghambur dan memeluk Nisa dan mencium kening adik tercinta. Suasana haru pun mencekam di dalam ruangan tersebut, Nisa meneteskan airmata kebahagiaannya begitupun dengan abi dan ummi Nisa. Aku bahagia sebab untuk kedua kalinya aku berhasil untuk memenuhi keinginan Nisa bertemu dengan Fira. Ya Rabb, aku bersyukur terhadap anugerah yang telah Kau limpahkan pada kami, do’aku dalam hati.

            Hari ini adalah hari yang paling menegangkan untuk kami semua, sebab sesuai jadwal tim dokter hari ini Nisa dan Aya akan menjalani operasi pendonoran hati. Kami semua berkumpul di depan ruang operasi, tapi ada yang aneh Fira tak ada di antara kami. Aku hanya melihat abi dan ummi Nisa, abi dan ummiku, sebagian teman baik Nisa yang sedang ada di Kairo pun turut hadir namun aku tak juga melihat Fira. Tak lama setelah Nisa masuk, tim medis kembali mendorong Aya menuju ke ruang operasi. Aku merasakan ada rasa yang tak biasa ketika aku berpandangan dengan mata Aya, aku khawatir dan sedih akan berjalannya operasi donor hati ini.

            Operasi pun dimulai, menurut perkiraan tim dokter operasi ini akan berjalan selama 8 jam. Kami dengan gelisah menunggu di luar ruangan. Aku tak bisa mengontrol hatiku, oleh karena itu aku menuju ke mushola rumah sakit. Setelah menunaikan sholat Dhuha, aku tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, aku dan Fira berjalan bersama lalu tiba-tiba Fira terjatuh dan sudah tak tertolong lagi. Aku terbangun dan segera mengucapkan Istighfar, tapi naluriku merasa bahwa itu adalah kenyataan. Segera ku coba untuk menghubungi ponsel Fira, jujur aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan sahabat sejatiku itu, namun ternyata ponselnya tidak bisa untuk dihubungi. Aku pun segera kembali ke ruangan operasi. Operasi telah berjalan selama ± 7 jam, namun belum juga aku melihat Fira di antara kami semua. Aku sungguh sangat mengkhawatirkannya.

            Tak lama kemudian, lampu tanda operasi selesai akhirnya menyala juga. Jantungku berdegup kencang menunggu Dokter Yaqub keluar, aku menggenggam tangan ummi dengan begitu eratnya. Dokter Yaqub pun keluar diikuti oleh para tim medis lainnya, mereka menampakkan ekspresi wajah yang sulit untukku tebak. Dokter Yaqub berkata bahwa Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, semua berjalan sesuai dengan prosedur kedokteran. Nisa pun telah dinyatakan sembuh total dari penyakiit kelainan hati yang selama ini dideritanya, kami semua bersyukur. Namun, sang pendonor yang tak lain adalah Aya mengalami pendarahan saat operasi selesai dan Allah berkehendak untuk menjemputnya terlebih dulu dari Annisa. Aku tersentak, entah mengapa. Aku merasa telah lama mengenal Aya. Tapi, aku mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang belum ada kepastiannya itu.

            Tim medis memperbolehkan kami untuk melihat kondisi Nisa pasca operasi, aku melihat Nisa kini benar- benar  telah sembuh. Rona merah di pipinya pun kini bisa dengan jelas ku lihat. Setelah melihat keadaan Nisa, kami pun menuju ke kamar jenazah untuk memanjatkan do’a bagi Aya. Aku masuk terlebih dahulu lalu diikuti oleh yang lainnya. Kain putih masih menutupi wajah gadis Mesir yang berhati mulia tersebut, dengan perlahan ku sibak kain itu ternyata wajah Aya masih saja mengenakan cadar putih yang tadi dikenakannya sebelum operasi  dilakukan. Abi Nisa menyuruhku untuk membuka cadar itu, agar kami dapat dengan jelas melihat wajah gadis yang berjiwa malaikat tersebut.

            Dengan mengucapkan bismillah, aku membuka cadar itu. Aku lemas, nafas ini serasa seperti berhenti, tangisku pecah memenuhi kamar jenazah tersebut. Semua yang hadir pun tak kuasa untuk membendung airmata, Nisa yang saat itu juga berada di kamar tersebut pun jatuh pingsan seketika. Bagaimana tidak? jenazah gadis yang bernama Ruqayyah Al-Maisaroh itu ternyata adalah wanita yang sampai hari ini tetap memenuhi sebagian hatiku, wanita yang selalu yakin dan semangat, wanita yang dulu sempat aku cintai karena Allah, dia adalah Zelfira Anastasya. Ummi memelukku dengan begitu erat, tapi hati ini tetap saja tak bisa menerima kenyataan yang ada di hadapanku kini.

            Mataku sembab, hatiku hancur, jiwaku luluh. Pagi itu, langit mendung menghiasi angkasa saat upacara pemakaman Fira dilakukan, makamnya persis berada tepat di samping makam orang yang sangat dicintai Fira yakni Maulana Firdaus Al-Farizi. Nisa terlihat cukup tegar dibandingkan denganku, aku tersungkur di samping makam Fira. Ya Rabbi, terimalah ia di sisimu, pertemukanlah Fira dengan Firdaus di dalam surga-Mu. Demi Engkaulah, aku tetap akan menyayanginya sesuai dengan segala kehendak-Mu, do’aku dalam hati dengan penuh kekhusyukan.
           
            2 bulan setelah pemakaman Fira, aku dan Nisa melaksanakan walimah (pernikahan) guna memenuhi Sunnah Rasul. Aku mengucapkan Ijab Qabul dengan suara jelas dan tegas. Aku resmi menjadi suami wanita yang sangat aku cintai yakni Annisa Nur Azizah. Aku bahagia dengan semua ini, aku pun percaya Fira turut bahagia dengan semua ini. Setelah upacara pernikahan usai digelar, aku dan Nisa berziarah ke makam Fira. Sesampainya di sana, kami berdua memanjatkan do’a dalam hati masing-masing. Aku tak kuasa membendung airmata, aku menangis sejadi-jadinya. Nisa pun terduduk di sampingku sambil merangkul bahuku, hatiku bergetar hebat. Aku meremas gundukan tanah tempat Fira bersemayam, tiba-tiba aku menyentuh sesuatu di balik gundukan tersebut dan ternyata itu adalah sepucuk surat. Aku dan Nisa membaca surat tersebut yang berisi seperti ini :

                        Assalamu’alaikum.wr.wb
                        Teruntuk Irsyad Al-Mubaraq . .
                                    Aku memang telah tiada, tapi hati ini tetap menemanimu dalam setiap langkah
                        hidupmu. Aku melakukan ini semata karena Allah dan tak ada alasanku untuk membuat
                        semuanya bersedih. Ini adalah kodratku sebagai seorang kakak dan seorang sahabat.
Aku ikhlas dengan semua ini, katakanlah padanya bahwa demi Allah kamu mencintainya. Dialah wanita shalihah yang pantas untuk dapatkan hatimu… jagalah hatiku itu dengan cinta tulusmu. Wassalam…… Zelfira Anastasya.

Aku memejamkan mata ini, merasakan hembusan angin sore dan juga naluri ini merasa bahwa Fira hadir di antara aku dan Nisa. Saat ku buka mata ini, Nisa telah memelukku dan bersandar di dadaku. Jiwaku tersenyum dan jantungku bergetar hebat saat ku sentuh wajah sucinya dengan telapak tanganku lalu ku kecup keningnya dengan penuh kemesraan dan Nisa memejamkan matanya. Aku berkata dengan tulus pada wanita yang kini halal untuk ku sentuh itu.
                        ‘Nisa, demi Allah aku mmencintai dan menyayangimu.’ Ujarku.
                        ‘Insya Allah, aku pun begitu padamu.’ Kata Nisa.
Sore itu, langit begitu cerah saat aku dan Nisa meninggalkan makam Zelfira. Aku menggenggam tangan istriku tercinta. Fira memang telah pergi menghadap Illahi, tapi hatinya akan terus ada di sampingku sebab hati itu telah bersemayam dalam tubuh wanita yang paling ku cintai dengan sepenuh hatiku, dia adalah Annisa Nur Azizah.

TAMAT


1 komentar: